Muda, energik dan penuh semangat. Begitulah kesan yang muncul saat saya bersua dengan Budi Hartono. Ditemui di kantornya di bilangan Pondok Indah Jakarta, pria kelahiran Surabaya ini terkesan sangat menikmati hidupnya. Bisa jadi karena PT Perisai Sakti (PS) yang dikomandaninya, sudah membukukan prestasi yang menggembirakan. “Dalam beberapa tahun terakhir, rapor Perisai Sakti kini tidak lagi merah. Hal ini merupakan bukti dari konsistensi dan profesionalisme seluruh jajaran manajemen, sehingga akan terus memacu semangat kerja Llumar Indonesia di masa yang akan datang”, ungkapnya.

Hebatnya, pencapaian ini juga sejalan dengan popularitas Llumar sebagai produk kaca film dengan brand perception yang sangat positif. Umumnya, konsumen mengasosiasikan Llumar sebagai produk berkualitas namun dengan harga yang kompetitif. Sementara tag line : Made in USA, pun diyakini memiliki tuah yang cukup berpengaruh terhadap kualitas produk Llumar. ”Faktanya sejauh ini AS memang masih menjadi kiblat teknologi kaca film dunia”, ujar Budi.

Menurut penuturan Budi, kesuksesan membangun Llumar sesungguhnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Segudang tantangan membelitnya saat ia memutuskan untuk memegang lisensi sebagai distributor Llumar untuk pasar Indonesia. Hadir pertama kali pada 2002, produk Llumar masih kalah pamor dibandingkan dengan produk sejenis yang sudah malang melintang duluan, seperti V-Kool, Solar Guard, 3M atau Johnson. Sudah begitu, ia mewarisi utang milyaran rupiah dari para pemegang saham lama.

Namun berbekal keyakinan yang kuat, Budi tidak perlu berpikir panjang untuk menyatakan kesanggupannya untuk memimpin PS. Ia percaya, dengan penetrasi pasar yang masih terbilang rendah, produk-produk kaca film branded, seperti Llumar memiliki potensi pasar yang luas. Tak perlu menunggu lama, langkah-langkah pembenahan pun dilakukan. Pada tahun-tahun pertama, ia memfokuskan pada pembangunan jaringan pemasaran ke seluruh Indonesia. Dealer-dealer potensial di berbagai kota besar di Indonesia, direkrut untuk memperkuat armada penjualan. Pada sisi lain, langkah promosi pun juga digenjot. Budi tidak segan-segan menggelontorkan dana ratusan juta rupiah untuk membangun brand awarness Llumar.

Bahkan untuk aktifitas promosi, model out of box selalu menjadi ciri khas Llulmar. Ambil contoh pada 2004, ia membangun booth setinggi 11 meter pada ajang IAS (Indonesia Auto Show) yang menjadi rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Seolah tidak puas, ia melepaskan sebanyak 10 ribu balon Llumar ke udara, bertepatan dengan kampanye terakhir pemilu 2004 PDI-P di Parkir Timur Senayan. Aksi lepas balon itu pun juga berbuah penghargaan yang sama dari MURI.

Menurut Budi, bisnis juga merupakan seni. Itu sebabnya, ia meyakini kesuksesan bisnis juga bukan sekedar ditopang dari sumber daya konvensional, seperti modal, SDM atau dukungan jaringan pemasaran. ”Insting pun cukup berperan”, ujarnya. Ia menceritakan kisah unik yang dijalaninya pada awal membangun Llumar. Sadar akan keterbatasan anggaran, Budi terkesan berjudi karena pada dua bulan pertama ia ’sukses’ menghabiskan opex (operation expenditure) sebanyak Rp 800 juta, hanya untuk berkeliling ke Indonesia guna merekrut para dealer, serta untuk aktifitas promosi baik ATL maupun BTL. Alhasil, PS tidak memiliki modal lagi untuk membeli bahan baku Llumar langsung dari pabriknya di Martinsville, Virginia, AS.

Rupanya langkah-langkah promosi terbilang efektif. Konsumen mulai tergerak dan dealer-dealer di seluruh Indonesia mulai kebanjiran order. Namun tentu saja PS tidak dapat mengirim produk pesanan. ”Wong, bahan bakunya belum ada”, ungkap Budi sambil tertawa. Kondisi itu ia biarkan selama hampir dua bulan, sampai para dealer teriak-teriak.

Nah, pada puncaknya, Budi bersama timnya pun bergerak cepatnya. Ia menghubungi para dealer untuk meminta pembayaran di muka. Dan langkah ini terbilang efektif. Karena tidak ingin kehilangan peluang dan omzet yang sudah menunggu di di depan mata, semua dealer menyanggupi. Hasilnya, hanya dalam tempo singkat, terkumpul uang Rp 1,5 milyar, cukup untuk membeli bahan baku Llumar yang langsung didistribusikan ke seluruh dealer. Nah, dari situlah, imbuh Budi, bola salju Llumar mulai bergerak, sekaligus mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Menurut Budi, jaringan pemasaran yang kuat memang menjadi salah kunci sukses Llumar. Kini saat produk life cycle Llumar mulai memasuki masa maturitas, ia membatasi jumlah dealer. Saat ini total dealer PS di seluruh Indonesia berjumlah 25. Bagi mereka yang masih ingin berminat menjadi dealer, Budi menetapkan syarat yang cukup berat. Yakni menyediakan “uang hangus” senilai Rp 50-75 juta. Mahar ini nantinya akan digunakan untuk keperluan promosi calon dealer bersangkutan sebanyak 30%, sisanya akan digunakan untuk promosi yang bersifat nasional. Budi menjamin, tak seperak pun dari dana tersebut mengalir ke rekening PS.

Sejatinya, imbuh Budi, tujuan dari mahar tersebut untuk menghargai keberadaan dealer-dealer incumbent. ”Karena mereka bersedia tumbuh dan berkembang bersama PS terutama pada waktu Llumar masih belum punya nama”, ujarnya.


Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda ketika memulai usaha. Ada yang murni karena impiannya menjadi pengusaha, ada juga yang karena faktor 'mau tidak mau'. Salah satu contoh nyata orang yang jadi pengusaha karena faktor 'mau tidak mau' tersebut adalah Hendranata Tan.

Sekarang, Hendra begitu biasanya dia akrab dipanggil sudah sukses dengan bisnisnya di bidang supplier dan applicator kaca interior di bawah bendera Himalaya Abadi. Namun ada yang harus Hendra korbankan ketika mulai terjun ke dunia bisnis ini. Seperti remaja pada umumnya, dia pun ingin menikmati jenjang pendidikan setinggi-tingginya.

Apa daya, kondisi keluarga memaksanya untuk berhenti bermimpi dapat bersekolah tinggi dan Hendra pun harus menghadapi kenyataan. Kepergian sang ayah yang begitu tiba-tiba pada tahun 1982 membuat usaha importir dan distributor kaca warisan dari sang ayah berantakan.

Sementara sang ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga harus mengambil peranan sang ayah dalam mengurus toko, menghidupi keluarga, dan juga menghadapi para penagih utang. Sebagai anak sulung dari 4 bersaudara, Hendra pun merasa bertanggungjawab. Hendra memutuskan untuk berhenti sekolah di tingkat 2 SMA dan mengurus usaha keluarga.

Setelah membenahi semua urusan utang, Hendra mengubah haluan bisnis Toko Kaca Himalaya menjadi ritel pada tahun 1986. Hingga kini, toko itu masih eksis dan dapat dijumpai di daerah Bungur – Senen, tidak pindah sedikit pun dari lokasi awalnya berdiri. Seiring waktu berjalan, Hendranata memutuskan untuk keluar dan mendirikan perusahaannya sendiri.

Maka pada tahun 2000, PT Himalaya Abadi resmi berdiri. "Saya dan Tinus (adik ipar) punya keinginan untuk membuat sesuatu yang beda. Saya juga melihat ada peluang karena di Indonesia produk kacanya generik. Maka kita coba buat yang lebih spesifik dan ternyata responsnya bagus," cerita ayah dua anak itu.

Demand produk kaca yang begitu spesifik awalnya kecil sekali. Namun Hendra berani menciptakan pasar sendiri. "Kendalanya, tidak semua toko bisa beli produk kita. Maka kita harus pasarkan sendiri," lanjut Hendra. Sekarang produk-produk Himalaya Abadi bisa dijumpai di berbagai kota se-Indonesia, khususnya kota dengan pertumbuhan properti yang cukup pesat.

Jika Anda pernah mengagumi keindahan dinding kaca di lobi gedung perkantoran, mal, hotel atau restoran, mungkin itu salah satu hasil karya Himalaya Abadi. Termasuk switch glass di ruang meeting perkantoran atau partisi kaca di kamar mandi. Produk-produk Himalaya Abadi memang lebih dominan untuk penggunaan interior, baik residensialmaupun komersial.

Hendra pun membawa konsep yang berbeda dengan perusahaan kaca pada umumnya yakni konsep perusahaan kaca modern. Beliau memperlihatkan bahwa kaca bukan hanya sebuah objek statis namun bisa sangat dinamis dan diimplementasikan dengan berbagai hal khususnya yang terkait kemajuan teknologi digital. Kalau Anda tidak percaya, silakan datang langsung ke Marketing Gallery Himalaya Abadi yang terletak di Jalan Raya Kelapa Hybrida, Rukan Grand Orchard Square A-06, Kelapa Gading. Di sana terdapat showroom produk hingga experience center di mana Anda dapat meilhat bagaimana produk kaca dipadukan dengan teknologi IT masa kini.

Bekerja sama dengan berbagai pihak mulai dari desainer interior, perusahaan kontraktor, maupun pengembang properti, Himalaya Abadi semakin melesat maju. Produknya pun semakin banyak digunakan dan dikenali. Hendra pun memiliki impian suatu saat bisa memproduksi kaca lembaran di pabriknya sendiri.

Sekarang ini sudah ada 11 jenis produk yang eksklusif dimiliki Himalaya Abadi. Untuk kategori kaca ada Glass Tone, Textura, Dania, Acid Etched Glass, Crystal Clear Glass, MirroMax, Maxi Cool, dan MirroMax Arte. Sementara untuk kategori glass film ada Wall Film, Switch dan Finura. "Sampai sekarang, belum ada perusahaan lain di Indonesia yang menyediakan range produk selengkap kita dan semuanya ready stock," ujar Hendra. Persebaran produknya mulai Kota Medan, Bandung, Solo, Surabaya, dan Makassar. Hendra pun bercita-cita bisa memasarkan produknya sampai ke seluruh Indonesia.

Dalam menjalankan usahanya, Hendra dibantu oleh tiga anggota keluarga yaitu: Wilson – putra kandung yang bertanggungjawab untuk business development; Wijayanata – adik ketiga yang fokus di bisnis kaca film lalu Agtinus – adik ipar (suami dari adik keempat) yang fokus di bisnis produk kaca.

Sementara untuk urusan keuangan, Hendra mempercayakan sepenuhnya kepada BCA. Hubungan Hendra dengan BCA telah terjalin sejak tahun 1986, sejak dia mulai mengurus Toko Kaca Himalaya. Saat itu dia memiliki rekening pribadi di BCA cabang Gunung Sahari.

Kemudian hubungan dengan BCA mulai intens pada tahun 2011 ketika dia membuka rekening perusahaan Himalaya Abadi di BCA cabang Sunter Bisma. Berbagai layanan korporat dari BCA telah Hendra gunakan. Mulai dari rekening giro, rekening koran, KPR hingga rekening valas.

"Customer kita mayoritas menggunakan BCA, maka bagi kita lebih mudah jika memiliki rekening BCA. Lagipula BCA jaringannya luas dan sangat cepat dalam merespons kebutuhan kita. Satu hal yang saya ingat, BCA sangat selektif dalam memberikan pinjaman. Tapi setelah dapat, langkah selanjutnya jadi lebih simpel," cerita pria kelahiran April 1968 itu.


Christopher Sebastian (tengah) memiliki masa lalu yang kelam, namun Ia mampu bangkit dan sukses hingga menjadi Founder & CEO Makko Group yakni Sole Distributor kaca film untuk mobil, bangunan, dan kapal. Foto/Okezone

JAKARTA - Christopher Sebastian memiliki masa lalu yang kelam, namun Ia mampu bangkit dan sukses hingga menjadi Founder & CEO Makko Group yakni Sole Distributor kaca film untuk mobil, bangunan, dan kapal. Kini Makko Group yang dipimpin Christopher memegang 7 merek kaca film ternama seperti First Klass, Masterpiece, 02, Blacklist, Signature, Johnson, dan 3M.

Selain menjadi distributor, ia juga memiliki toko grosir kaca film, merek karpet mobil PVC coil sendiri bernama First Class, dan kemitraan bengkel perawatan mobil.

"Selain bisnis di bidang otomotif, aku juga memiliki 5 bisnis di bidang kuliner seperti restoran Ayam Bebek Angsa Masak di Kuali yang sudah mencapai 30 cabang. Restoran mie Mie & You, Pandalicious, Gluk Gluk Gluk ahhh, dan Boba Pan," ujar Christopher Sebastian di Jakarta Rabu (8/7/2020).

Pria kelahiran 11 Januari ini juga memiliki bisnis spa online bernama Pijat Ningrat. Bisnis ini melayani pijat untuk anak-anak dan orang dewasa di daerah Jadodetabek.

“Kesuksesan ini tidak lepas dari pengalaman hidup di masa lalu. Aku sempat direhabilitasi akibat penggunaaan narkoba. Bahkan terjerumusnya ke dalam dunia hitam menjadi bandar narkoba, bandar judi bola ini akibat pergaulan yang buruk dan berpisahnya kedua orang tua. Aku bahkan sempat di penjara dua kali akibat narkoba," aku peraih Rekor Otomotif Indonesia (ROI).

Lingkungan di pusat rehabilitasi juga yang mempertemukannya dengan jalan hidup baru. Christopher akhirnya meninggalkan narkoba dan merintis karir sebagai pebisnis.

Selepas dari pusat rehabilitiasi, Christopher bekerja di salah satu anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk. Di perusahaan itu ia bekerja di bagian advertising atau perikalanan. Ia juga pernah bekerja di distributor kebutuhan hotel dan restoran seperti sabun dan sampo sekitar 1-2 tahun.

"Berawal dari Tangerang, Banten, aku mulai membuka bisnis kaca film mobil dan mimpi itu menjadi kenyataan kesuksesan besar yang aku raih hingga lahirlah Makko Group yang di kenal hingga hari ini. Tahun 2019, Makko Group sudah memiliki ratusan pelanggan yang tersebar di penjuru Indonesia," papar Christopher.

Selain faktor tidak mau keluar modal untuk belanja berbagai alat jualan online seperti website, belanja iklan berbayar, update konten ternyata masih ada 100 faktor lainya yang bikin jualan online jadi gagal total.Ada banyak alasan mengapa seseorang bisa gagal dalam menjual produk atau jasa secara online.

Berikut adalah 100 alasan yang mungkin menyebabkan kegagalan dalam menjual online:


  1. Tidak memahami pasar target.
  2. Tidak memiliki rencana bisnis yang baik.
  3. Tidak memahami produk atau jasa yang dijual.
  4. Harga produk atau jasa terlalu tinggi.
  5. Kualitas produk atau jasa rendah.
  6. Tidak memiliki strategi pemasaran yang efektif.
  7. Tidak memiliki situs web yang ramah pengguna.
  8. Tidak memiliki strategi SEO yang baik.
  9. Tidak memiliki konten yang relevan.
  10. Tidak memiliki strategi media sosial yang efektif.
  11. Tidak memanfaatkan iklan berbayar dengan baik.
  12. Tidak memiliki tampilan produk yang menarik.
  13. Tidak memiliki sistem pembayaran yang mudah digunakan.
  14. Tidak memiliki testimoni atau ulasan positif.
  15. Tidak memiliki kebijakan pengembalian yang baik.
  16. Tidak memiliki pilihan pengiriman yang fleksibel.
  17. Tidak memiliki layanan pelanggan yang baik.
  18. Tidak memiliki strategi email marketing yang efektif.
  19. Tidak memiliki taktik penawaran khusus.
  20. Tidak memiliki kehadiran di platform e-commerce yang populer.
  21. Tidak memiliki perhitungan biaya yang tepat.
  22. Tidak memiliki strategi logistik yang efisien.
  23. Tidak memiliki stok yang memadai.
  24. Tidak memiliki pemasok yang dapat diandalkan.
  25. Tidak memiliki kebijakan privasi dan keamanan yang memadai.
  26. Tidak memiliki sertifikat keamanan untuk situs web.
  27. Tidak memiliki situs web yang responsif.
  28. Tidak memiliki strategi retargeting.
  29. Tidak memiliki strategi pelacakan konversi.
  30. Tidak memiliki strategi pengelolaan inventaris.
  31. Tidak memiliki pelatihan karyawan yang memadai.
  32. Tidak memiliki manajemen waktu yang efektif.
  33. Tidak memiliki peralatan yang memadai.
  34. Tidak memiliki sumber daya keuangan yang cukup.
  35. Tidak memiliki pemahaman tentang analitik web.
  36. Tidak memiliki pemahaman tentang konsep konversi.
  37. Tidak memiliki rencana kontinuitas bisnis.
  38. Tidak memiliki rencana pertumbuhan bisnis.
  39. Tidak memiliki pemahaman tentang hak kekayaan intelektual.
  40. Tidak memiliki pemahaman tentang peraturan perpajakan.
  41. Tidak memiliki pemahaman tentang hukum e-commerce.
  42. Tidak memiliki pemahaman tentang hukum privasi data.
  43. Tidak memiliki pemahaman tentang hukum perlindungan konsumen.
  44. Tidak memiliki pemahaman tentang etika bisnis online.
  45. Tidak memiliki pemahaman tentang manajemen risiko.
  46. Tidak memiliki pemahaman tentang peluang risiko.
  47. Tidak memiliki pemahaman tentang persaingan pasar.
  48. Tidak memiliki pemahaman tentang tren industri.
  49. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan perilaku konsumen.
  50. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan teknologi.
  51. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan algoritma mesin pencari.
  52. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam media sosial.
  53. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam peraturan iklan online.
  54. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi konsumen.
  55. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren desain web.
  56. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren video online.
  57. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi pembayaran.
  58. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi pengiriman.
  59. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren konten.
  60. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi perangkat.
  61. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren e-mail marketing.
  62. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam peraturan privasi data.
  63. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam kebijakan perpajakan.
  64. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam persaingan pasar.
  65. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam algoritma mesin pencari.
  66. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam teknologi pembayaran.
  67. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam teknologi keamanan.
  68. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren periklanan.
  69. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam strategi pemasaran.
  70. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam kebijakan media sosial.
  71. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi pengguna.
  72. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren penggunaan mobile.
  73. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren sosial dan budaya.
  74. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren teknologi.
  75. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren desain produk.
  76. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren layanan pelanggan.
  77. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren logistik.
  78. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren pengiriman.
  79. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren pemrosesan pembayaran.
  80. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren teknologi e-commerce.
  81. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren e-mail marketing.
  82. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren privasi data.
  83. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren perlindungan konsumen.
  84. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren kebijakan perpajakan.
  85. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren hukum e-commerce.
  86. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren hukum privasi data.
  87. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren hukum perlindungan konsumen.
  88. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren etika bisnis online.
  89. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren manajemen risiko.
  90. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren peluang risiko.
  91. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren persaingan pasar.
  92. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren industri.
  93. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam perilaku konsumen.
  94. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam teknologi.
  95. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam algoritma mesin pencari.
  96. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam media sosial.
  97. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam peraturan iklan online.
  98. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam preferensi konsumen.
  99. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren desain web.
  100. Tidak memiliki pemahaman tentang perubahan dalam tren video online.

Kegagalan dalam menjual online bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dan sangat penting untuk memahami pasar, teknologi, dan tren terbaru, serta memiliki strategi bisnis yang kuat dan berkelanjutan untuk menghindari masalah ini. Dalam bisnis online, adaptasi dan pembelajaran terus-menerus sangat diperlukan untuk menghadapi perubahan yang terus berlangsung di lingkungan digital.



JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang tukang patri bernama Hamid masih semangat bekerja meski usianya menginjak 78 tahun.

Hampir setiap hari dia memangkal di Jalan Ampera Raya, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kendati demikian, Hamid mengakui sudah jarang orang yang menggunakan jasanya karena perabotan rumah sudah beralih ke bahan plastik.

"Enggak ada, enggak ada yang matri, sudah jarang. Sekarang baskom, rantang, dan yang lain bahannya sudah plastik," kata Hamid saat ditemui Kompas.com di kawasan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (5/10/2023).

Bukan hari itu saja, ayah enam anak itu sudah hampir satu pekan terakhir tidak ada pelanggan.

Hamid hanya bisa berdiam diri, melamun, memandang Jalan Ampera Raya, dan terkadang tertunduk lesu.

Namun, ada saja orang baik. Mereka memberikan rezeki kepada Hamid untuk kehidupan sehari-harinya.

"Rezekinya ada saja yang dikasih dari Allah. Kadang diberikan Rp 50.000, kadang Rp 100.000. Saya bukan minta atau mengemis, ya nerima saja. Orang kasih, masa ditolak. 'Pak, ada rezeki', gitu. Alhamdulillah," ujar dia.

"Kalau mengemis kan Rp 1.000, Rp 2.000, malu, nanti diusir sama petugas kamtib. Saya kan bukan mengemis, kalau mengemis, dibawa sama kamtib," lanjut dia.

Rupanya, Hamid menekuni profesi jasa patri ini karena melanjutkan pekerjaan ayahnya. Bahkan, dia sudah lebih dari 50 tahun terakhir menjadi tukang patri.

"Iya, saya turunan bapak. Dari tahun 70-an (jadi tukang patri), dari bujang," ungkap Hamid sambil tersenyum dan sesekali berdeham.

Sambil tertawa, ia kilas balik memori saat masih punya banyak tenaga untuk memikul peralatan patri dan berjalan jauh dari kampung ke kampung.

"Kalau zaman dulu mah saya jalan kaki, jauh, sampai Pondok Labu, Jati Padang, Blok M juga sampai. Tapi. enggak terasa. Orang-orang olahraga kalau pagi, saya setiap hari sudah gerak," seloroh Hamid.

Sayangnya, pelanggannya kini sudah tidak lagi sebanyak dulu. Ia jadi mengandalkan orang yang memberikan sedekah kepadanya untuk membayar kontrakan.

"Ngontrak. kalau enggak, ya saya di kampung. Ini karena ada yang kasih, kalau enggak ada, ya saya enggak bisa mengontrak, di kampung saja," ucap Hamid.

"(Kalau ada pelanggan, satu kali patri) Rp 10.000, kadang Rp 15.000, tergantung tingkat kesulitan. Tapi, kadang ada yang, 'ya sudah, Pak, kembaliannya untuk Bapak'. Ya alhamdulillah," kata Hamid lagi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang warga bernama Tejo (50) sudah menjadi petani di kampung halamannya sejak kecil.

Ketika memutuskan merantau ke Jakarta pada 1997, ia pun tetap melakoni profesi petani di Ibu Kota.

"Jadi petani mah dari kecil saya, di kampung saya. Terus merantau ke Jakarta, ke Rorotan. Kalau enggak salah 1997 baru jadi petani di sini," ungkap Tejo saat ditemui Kompas.com di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (9/10/2023).

Baca juga: Sawah di Rorotan Kering 2 Bulan Terakhir, Petani Kini Kerja Serabutan

Tejo mengungkapkan, sebagai petani, ia harus melewati proses panjang dan penuh hati-hati demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Berdasarkan pengalamannya, Tejo menjelaskan bahwa petani di Rorotan biasanya mengalami musim panen sebanyak dua kali dalam satu tahun.

"Kalau petani, setahun dua kali panen, setahun dua kali tanam. Di sini, tanamnya itu bulan tiga (Maret) sampai tujuh (Juli). Nah, baru motong (panen Juli), bulan Maret itu nyebar (menanam). Kalau orang Jakarta, semai kalau enggak salah bahasanya," kata Tejo.

Baca juga: Sawah di Rorotan Kering akibat Kemarau Panjang, Petani Tunda Tanam Padi

Di Rorotan, Tejo menyewa lahan garapan seluas tiga hektar dari seseorang dengan tarif Rp 5 juta per hektar. Namun, dia tidak menyebut apakah itu sewa tahunan atau bulanan.

"Kan sewa, rata-rata di sini Rp 5 juta untuk satu hektar. Ibaratnya kayak orang mengontrak saja," ungkap Tejo.
Hasil panen tak menentu

Sebagai petani, Tejo tak selalu mendapatkan hasil maksimal saat musim panen tiba. Semua hasil yang didapat tergantung proses, ketekunan petani, hingga iklim.

"Ya iya (pasang surut). Kadang-kadang motong (panen), kadang-kadang enggak. Kalau orang nyawah kan kayak orang berdagang, enggak ketahuan hasilnya," ujar Tejo.

Tejo bercerita, ia mengeluarkan Rp 18 juta sampai Rp 21 juta untuk modal menggarap lahan seluas 3 hektar.

"Ya itu, (modal) Rp 6 juta untuk satu hektar. Termasuk pupuk, traktor, sama tandur, minimal segitu (Rp 6 juta) dan maksimal Rp 7 juta. Dikali tiga hektar, ya Rp 18 juta sampai Rp 21 juta," ujar Tejo.

Baca juga: 20 Tahun Jadi Petani di Jakarta, Tejo: Kalau Panas Kekeringan, Hujan Kebanjiran

Namun, hasil yang didapatkan tak selalu sama. Ia biasanya akan mendapatkan 7-8 ton padi dari satu hektar lahan garapannya. Satu ton padi dijual seharga Rp 5,5 juta.

Namun, pada akhir tahun lalu, hasil panen yang didapatnya jauh merosot.

"Kan kadang-kadang padinya putih, itu paling tiga ton. Itu sudah dapat bagus itu. Nah, kemarin cuma tiga kuintal. Itu Desember 2022 kemarin," keluh Tejo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Udin (75), seorang pedagang gorden keliling tetap bersemangat berjualan di Ibu Kota meski usianya sudah senja.

Selayaknya pegawai kantoran, Udin selalu keluar dari kontrakannya yang berada Jalan Warung Sila, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pukul 07.00 WIB lalu pergi dari kampung ke kampung.

Seragam kerja yang digunakan sangat sederhana, yakni kaus lengan pendek, celana bahan, dan topi.

Tidak lupa Udin selalu membawa peci untuk salat di masjid ketika waktunya tiba.

Peralatan berniaganya juga tidak neko-neko.

Ia hanya membawa tiang gorden berbahan aluminium yang dia pikul dan sebuah tas cokelat berisi anting-anting hingga gorden.

"Jual gorden sebetulnya dari tahun 2000-an. Sebelumnya jual pakaian, kain-kain, minyak wangi dari tahun 1972. Ganti-ganti," ungkap Udin saat ditemui Kompas.com di Masjid Al Barkah, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2023).


Untuk menjual satu gorden saja rasanya sulit bagi Udin. Sebab, sudah satu pekan terakhir ini belum ada satu pun dagangannya yang terjual.

Saat wawancara bersama Kompas.com, Udin belum makan. Dia hanya mengonsumsi satu buah kue sebelum berangkat dari kontrakannya.

"(Setiap keluar kontrakan) ya kadang-kadang (enggak makan), minum air saja," ucap Udin sambil tersenyum.

Karena sulit menjual dagangan, Udin terpaksa harus menunggak uang sewa kontrakannya selama 4 bulan terakhir.

"Belum (bayar bulan in). Nunggak, (bahkan) 4 bulan. Iya (4 bulan nunggak kontrakan)," ujar Udin.

Baca juga: Kisah Hamid, Lebih dari 50 Tahun Geluti Profesi Tukang Patri di Jakarta

Walau begitu, pemilik kontrakannya orang baik.

Setelah Udin meminta maaf karena belum bisa membayar uang sewa, sang pemilik selalu menoleransi.

Udin tinggal di kontrakan tersebut seorang diri. Istri dan 8 dari 13 anaknya di kampung halaman yang berada di Jawa Barat.

Meski keadaan terimpit, Udin selalu tersenyum saat menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Wajah semringah selalu terpancar.

Ia mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena terkadang ada saja orang yang memberikan sedekah saat melihatnya.

"Ya kadang-kadang ada yang kasih, Alhamdulillah," tutur Udin.


Untuk minum, Udin tidak mengkhawatirkannya. Terkadang, setiap masjid yang disinggahi tersedia dengan gratis.

Rupanya, ada alasan kuat tersendiri bagi Udin mengapa harus bekerja ketika usianya sudah menginjak senja.

"Ya karena masih punya anak, 3 lagi. 3 (dari 8) masih pada sekolah (di kampung). Iya (putuskan tetap bekerja karena anak masih sekolah), sama masih belum pada nikah juga," ungkap Udin.

Lagi-lagi, Udin menjawabnya dengan senyuman. Bahkan dia terkadang tertawa meski kondisi ekonominya sangat tidak stabil.

"Gimana nanti saja, gimana Allah yang kuasa. Serahkan semua sama yang kuasa saja," imbuh Udin saat menjawab bagaimana dia menghadapi cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa.

PABRIK PEMBUATAN SEPITENG BIOTEK DAN TANGKI PANEL

Pabrik pembuatan septic tank biotek dan tangki panel adalah fasilitas industri yang memproduksi berbagai jenis tangki septik yang digunakan untuk pengolahan limbah domestik dan komersial. Beberapa informasi penting yang perlu Anda pertimbangkan jika Anda ingin mendirikan pabrik semacam itu adalah sebagai berikut:

Perencanaan Pabrik:

  • Identifikasi lokasi yang sesuai untuk pabrik, dengan akses mudah untuk distribusi produk Anda.
  • Pastikan kepatuhan terhadap semua peraturan dan perizinan yang berlaku dalam lingkungan industri yang akan Anda operasikan.

Desain Produk:

  • Buat desain produk yang efisien dan ramah lingkungan, seperti septic tank biotek dan tangki panel.
  • Pastikan produk-produk ini memenuhi standar keamanan dan kualitas yang berlaku.

Sumber Bahan Baku:

  • Identifikasi sumber bahan baku berkualitas tinggi, seperti material plastik atau beton precast, yang digunakan dalam pembuatan tangki.
  • Jalin hubungan dengan pemasok bahan baku yang dapat memenuhi kebutuhan produksi Anda secara konsisten.

Teknologi Produksi:

  • Investasikan dalam peralatan produksi yang canggih dan teknologi terkini yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas pabrik Anda.
  • Latih staf produksi Anda agar mereka dapat mengoperasikan peralatan ini dengan aman dan efektif.

Manajemen Kualitas:

  • Terapkan sistem manajemen kualitas yang ketat untuk memastikan produk-produk Anda memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan.
  • Selalu lakukan pengujian dan inspeksi berkala untuk memastikan keamanan dan kualitas produk.

Distribusi dan Pemasaran:

  • Rencanakan strategi distribusi yang efisien untuk mendistribusikan produk-produk Anda ke pasar lokal dan mungkin ke wilayah lain.
  • Kembangkan strategi pemasaran untuk mempromosikan produk-produk Anda kepada pelanggan potensial.

Perijinan dan Regulasi:

  • Pastikan pabrik Anda memenuhi semua peraturan lingkungan dan kesehatan yang berlaku dalam industri ini, terutama dalam hal pengolahan limbah dan pembuangan limbah.

Keberlanjutan:

  • Pertimbangkan praktik-produksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, terutama jika Anda memproduksi septic tank biotek yang berkaitan dengan pengolahan limbah.

Keuangan:

  • Susun proyeksi keuangan yang akurat untuk mengidentifikasi kebutuhan modal, biaya operasional, dan perkiraan pendapatan.
  • Pertimbangkan sumber pendanaan, termasuk modal sendiri, pinjaman bank, atau mitra investasi.

Keselamatan dan Lingkungan:

  • Pastikan pabrik Anda mematuhi semua pedoman keselamatan kerja dan praktik lingkungan yang berlaku.

Sertifikasi dan Standar:

  • Upayakan sertifikasi dan standar kualitas yang dapat meningkatkan reputasi produk Anda dan kepercayaan pelanggan.

Pendirian pabrik pembuatan septic tank biotek dan tangki panel adalah investasi yang signifikan. Jadi, pastikan Anda melakukan riset pasar yang baik dan merencanakan operasi Anda dengan cermat sebelum memulai bisnis ini. Dalam mengembangkan pabrik ini, Anda juga perlu menjalin kerjasama dengan pihak berwenang dan lembaga terkait untuk memastikan semua aspek operasional Anda mematuhi regulasi yang berlaku.

Target pasar pabrik pembuatan sepiteng biotek dan tangki panel

Sasaran pasar (target market) untuk pabrik pembuatan septic tank biotek dan tangki panel dapat mencakup beberapa segmen yang berbeda. Berikut adalah beberapa segmen potensial yang dapat Anda pertimbangkan:

Konsumen Individu:

  • Pemilik rumah tangga dan perumahan yang membutuhkan septic tank untuk pengolahan limbah domestik mereka.
  • Orang-orang yang tinggal di daerah pedesaan atau daerah yang tidak terhubung ke sistem saluran pembuangan umum.

Bisnis dan Industri:

  • Restoran, hotel, atau fasilitas komersial lain yang memerlukan pengolahan limbah komersial.
  • Proyek konstruksi yang membutuhkan tangki septik sementara untuk pekerjaan konstruksi.

Instansi Pemerintah dan Lembaga Umum:

  • Pemerintah daerah atau instansi pemerintah yang memerlukan tangki septik untuk fasilitas umum, seperti toilet umum atau rest area di jalan tol.

Pengembang Properti:

  • Pengembang properti yang membangun kawasan perumahan baru atau proyek komersial yang memerlukan pengolahan limbah.

Mitra Distribusi:

  • Bisnis yang menjual atau menyewakan septic tank biotek dan tangki panel kepada pelanggan akhir sebagai bagian dari layanan mereka.

Pasar Ekspor:

  • Jika memungkinkan, Anda juga dapat mempertimbangkan pasar ekspor jika produk Anda memenuhi standar internasional dan dapat bersaing di pasar luar negeri.

Strategi pemasaran Anda harus disesuaikan dengan setiap segmen pasar ini. Misalnya, Anda dapat menggunakan pemasaran langsung kepada konsumen individu melalui iklan online, pameran, atau kerja sama dengan kontraktor konstruksi dan pengembang properti. Di sisi lain, Anda mungkin perlu mengembangkan hubungan bisnis dengan perusahaan dan lembaga pemerintah untuk menargetkan segmen bisnis dan instansi pemerintah.

Analisis pasar yang mendalam dan penelitian pasar akan membantu Anda mengidentifikasi peluang terbaik untuk produk Anda dan merancang strategi pemasaran yang tepat untuk mencapai target pasar tersebut. Penting untuk memahami kebutuhan, preferensi, dan perilaku konsumen di setiap segmen pasar agar Anda dapat mengembangkan produk yang sesuai dengan permintaan mereka.

Cara memasarkan pabrik pembuatan sepiteng biotek dan tangki panel

Memasarkan pabrik pembuatan septic tank biotek dan tangki panel memerlukan strategi pemasaran yang cermat untuk mencapai target pasar Anda. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda pertimbangkan dalam proses pemasaran:

Identifikasi dan Pemahaman Target Pasar:

  • Tentukan dengan jelas segmen pasar mana yang ingin Anda targetkan, seperti konsumen individu, bisnis, pemerintah, atau mitra distribusi.
  • Pahami kebutuhan, masalah, dan preferensi pasar Anda.

Branding dan Identitas Bisnis:

  • Bangun identitas merek yang kuat dan profesional untuk pabrik Anda.
  • Buat logo dan citra merek yang mudah diingat.

Situs Web dan Prisensi Online:

  • Buat situs web yang informatif dan responsif yang memuat informasi produk, kontak, dan panduan penggunaan.
  • Manfaatkan media sosial dan platform online lainnya untuk mempromosikan produk Anda dan berinteraksi dengan pelanggan potensial.

Strategi Digital:

  • Gunakan strategi pemasaran digital seperti iklan online, SEO (Search Engine Optimization), dan pemasaran konten untuk meningkatkan visibilitas pabrik Anda di mesin pencari dan media sosial.

Pameran dan Acara Industri:

  • Hadiri pameran dan acara industri terkait untuk memamerkan produk Anda, berinteraksi dengan pelanggan potensial, dan menjalin kemitraan.

Kerjasama dengan Mitra Distribusi:

  • Identifikasi mitra distribusi yang dapat membantu Anda menyebarkan produk Anda kepada pelanggan akhir.
  • Jalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan distributor dan pemasok terkait.

Pemasaran Berbasis Wilayah:

  • Fokuskan upaya pemasaran ke wilayah yang memiliki permintaan tinggi akan produk Anda, seperti daerah pedesaan, daerah yang belum terhubung ke saluran pembuangan umum, atau wilayah dengan pertumbuhan konstruksi yang signifikan.

Pelayanan Pelanggan:

  • Pastikan pelayanan pelanggan yang baik dan tanggap.
  • Tanggapi pertanyaan dan permintaan pelanggan dengan cepat dan profesional.

Strategi Harga:

  • Tentukan strategi harga yang sesuai dengan pasar dan pesaing Anda.
  • Pertimbangkan berbagai model penentuan harga, seperti harga bersaing atau penawaran khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.

Sertifikasi dan Reputasi:

  • Jika produk Anda memiliki sertifikasi atau penghargaan tertentu, promosikan ini untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan.
  • Dalam industri ini, reputasi dan kualitas produk sangat penting.

Evaluasi dan Perbaikan Terus-menerus:

  • Pantau efektivitas strategi pemasaran Anda secara berkala dan siap untuk menyesuaikan strategi Anda jika diperlukan.
  • Kumpulkan umpan balik dari pelanggan dan gunakan untuk perbaikan produk dan layanan Anda.

Hubungan dengan Pemerintah dan Regulasi:

  • Pastikan Anda memahami dan mematuhi semua regulasi lingkungan dan kesehatan yang berlaku dalam bisnis ini, dan gunakan kepatuhan ini sebagai bagian dari cerita merek Anda.

Penting untuk menciptakan strategi pemasaran yang sesuai dengan sasaran pasar Anda dan terus memonitor hasilnya. Pemasaran yang efektif akan membantu meningkatkan kesadaran merek Anda, memperluas pangsa pasar, dan meningkatkan penjualan produk septic tank biotek dan tangki panel Anda.

 10 Usaha Jasa Akuntasi

Jasa akuntansi adalah bisnis yang menyediakan layanan pengelolaan keuangan dan akuntansi untuk perusahaan, organisasi, atau individu. Berikut adalah 10 usaha jasa akuntansi yang dapat Anda pertimbangkan:

  1. Pembukuan Usaha Kecil Menengah (UKM): Menyediakan layanan pembukuan untuk usaha kecil dan menengah, membantu mereka mengelola catatan keuangan mereka dengan baik.
  2. Pemeriksaan Akuntansi (Auditing): Menyediakan layanan pemeriksaan keuangan untuk memastikan integritas dan akurasi laporan keuangan klien.
  3. Konsultasi Keuangan: Memberikan saran dan konsultasi tentang perencanaan keuangan, manajemen risiko, dan perpajakan kepada klien.
  4. Pajak dan Perpajakan: Menyediakan layanan perpajakan, termasuk perhitungan pajak, pengajuan pajak, dan perencanaan perpajakan.
  5. Penggajian dan Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM): Mengelola proses penggajian, administrasi SDM, dan pemenuhan peraturan ketenagakerjaan.
  6. Penyusunan Laporan Keuangan: Membantu klien dalam penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
  7. Analisis Keuangan: Memberikan analisis mendalam tentang kesehatan keuangan perusahaan klien, termasuk rasio keuangan dan tren bisnis.
  8. Manajemen Kas dan Anggaran: Membantu klien dalam perencanaan anggaran, mengelola arus kas, dan memaksimalkan efisiensi keuangan.
  9. Penyusunan Laporan Pajak: Membantu klien dalam mempersiapkan dan mengajukan laporan pajak yang dibutuhkan.
  10. Pemulihan Piutang: Menyediakan layanan pemulihan piutang untuk membantu klien mengumpulkan uang yang tertunda.

Usaha jasa akuntansi dapat mengkhususkan diri dalam salah satu atau beberapa dari layanan di atas, tergantung pada kebutuhan dan keahlian mereka. Penting untuk memiliki pengetahuan yang kuat tentang peraturan perpajakan dan akuntansi serta mengikuti perkembangan terkini dalam bidang ini. Selain itu, memastikan bahwa Anda memiliki izin dan lisensi yang diperlukan adalah langkah penting dalam menjalankan usaha jasa akuntansi.

Target Pasar Jasa Akuntan

Menentukan target pasar yang tepat sangat penting dalam bisnis jasa akuntansi karena ini akan membantu Anda mengarahkan upaya pemasaran dan menarik klien yang sesuai dengan layanan yang Anda tawarkan. Berikut adalah beberapa segmen target pasar yang mungkin Anda pertimbangkan:

  • Usaha Kecil dan Menengah (UKM): UKM seringkali memerlukan bantuan akuntan untuk mengelola keuangan mereka, termasuk pembukuan, perpajakan, dan pelaporan. Target pasar ini dapat mencakup berbagai jenis bisnis, seperti toko kecil, restoran, dan perusahaan jasa.
  • Profesional Independen: Individu seperti dokter, pengacara, konsultan, dan profesional independen lainnya sering membutuhkan layanan akuntansi untuk membantu mereka mengelola keuangan pribadi dan bisnis mereka.
  • Organisasi Nirlaba: Organisasi nirlaba, seperti yayasan, badan amal, dan lembaga sosial, memerlukan layanan akuntansi untuk mengelola donasi, hibah, dan laporan keuangan mereka.
  • Perusahaan Startup: Startup sering membutuhkan bantuan akuntansi untuk membantu mereka memulai dan memahami peraturan perpajakan yang berlaku.
  • Perusahaan Besar: Perusahaan besar mempekerjakan tim akuntan internal, namun mereka juga dapat membutuhkan bantuan tambahan untuk proyek-proyek khusus atau pemeriksaan laporan keuangan.
  • Industri Khusus: Anda bisa mengkhususkan diri dalam melayani industri tertentu seperti real estat, pertanian, teknologi, atau manufaktur.
  • Individu Pribadi: Akuntan juga dapat menyediakan layanan untuk individu yang membutuhkan perencanaan pajak, manajemen aset, atau konsultasi keuangan pribadi.
  • Ekspatriat dan Imigran: Ekspatriat dan imigran mungkin memerlukan bantuan khusus dalam mengelola perpajakan dan keuangan mereka ketika bekerja atau tinggal di negara asing.
  • Bisnis Waralaba: Bisnis waralaba sering membutuhkan layanan akuntansi yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemilik waralaba.
  • Pasar Tertentu: Anda juga dapat memilih untuk memfokuskan diri pada pasar yang lebih spesifik, seperti start-up teknologi, restoran cepat saji, atau klinik kesehatan.


Penting untuk melakukan riset pasar dan memahami kebutuhan khusus segmen yang Anda pilih. Setelah Anda mengidentifikasi target pasar Anda, Anda dapat mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai untuk menjangkau dan menarik klien potensial dalam segmen tersebut.

Cara memasarkan usaha jasa akuntan

Memasarkan usaha jasa akuntan memerlukan strategi yang efektif untuk menjangkau calon klien dan membangun reputasi yang kuat. Berikut adalah beberapa cara yang dapat membantu Anda memasarkan usaha jasa akuntan:

  1. Buat Identitas Merek: Pertama-tama, pastikan Anda memiliki identitas merek yang konsisten, termasuk logo, situs web, dan materi pemasaran. Identitas merek yang kuat membantu membedakan Anda dari pesaing.
  2. Buat Situs Web yang Informatif: Situs web Anda harus berisi informasi lengkap tentang layanan yang Anda tawarkan, pengalaman Anda, serta testimoni dari klien sebelumnya. Pastikan situs web Anda ramah mobile dan mudah dinavigasi.
  3. Optimasi SEO: Pastikan situs web Anda dioptimasi untuk mesin pencari (SEO) sehingga calon klien dapat menemukan Anda dengan mudah ketika mereka mencari layanan akuntansi di daerah Anda.
  4. Aktif di Media Sosial: Manfaatkan platform media sosial seperti LinkedIn, Twitter, dan Facebook untuk membagikan konten bermanfaat tentang perpajakan, perencanaan keuangan, dan masalah terkait akuntansi. Hal ini akan membantu membangun otoritas di bidang Anda.
  5. Buat Blog atau Konten Edukasi: Tulis dan bagikan artikel blog atau konten edukatif yang berkaitan dengan topik keuangan dan akuntansi. Ini dapat membantu menarik perhatian calon klien dan menunjukkan pengetahuan Anda.
  6. Bergabung dalam Komunitas Bisnis Lokal: Ikut serta dalam organisasi bisnis lokal, kamar dagang, dan kelompok jaringan bisnis untuk membangun hubungan dengan pemilik usaha lokal.
  7. Bergabung dalam Asosiasi Profesional: Bergabung dengan asosiasi akuntan profesional dapat membantu membangun reputasi dan kredibilitas Anda dalam komunitas akuntan.
  8. Layanan Pelanggan yang Unggul: Memberikan layanan pelanggan yang luar biasa kepada klien Anda adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan referensi dan merekomendasi dari klien yang puas.
  9. Penawaran Khusus dan Promosi: Sekitar periode pajak atau masa sibuk lainnya, pertimbangkan untuk menawarkan promosi atau penawaran khusus kepada klien potensial.
  10. Gunakan Referensi dan Testimoni: Tampilkan testimonial positif dari klien sebelumnya di situs web Anda untuk membuktikan kemampuan Anda.
  11. Kemitraan dengan Profesional Lain: Bekerjasama dengan pengacara, perencana keuangan, atau profesional bisnis lainnya yang dapat merujuk klien kepada Anda.
  12. Pemasaran Email: Kirimkan newsletter berkala kepada pelanggan dan calon pelanggan untuk memberikan informasi tentang perubahan peraturan perpajakan, saran keuangan, dan berita industri.
  13. Ikut dalam Seminar atau Workshop: Sertai atau selenggarakan seminar, lokakarya, atau presentasi yang berfokus pada topik akuntansi atau keuangan untuk membangun reputasi dan jaringan Anda.


Ingatlah bahwa memasarkan usaha jasa akuntan adalah usaha jangka panjang. Dibutuhkan waktu untuk membangun reputasi dan klien yang stabil. Konsistensi dalam upaya pemasaran dan pelayanan berkualitas tinggi akan membantu Anda mencapai kesuksesan dalam bisnis jasa akuntansi Anda.

Diberdayakan oleh Blogger.