Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Kapolsek Tegal Dicopot, Kapolri: Tidak Perlu Menunggu Ayam Berkokok


JawaPos.com – Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis memuji kinerja Kapolda Jawa Tengah yang langsung mengambil sikap dengan mempidanakan Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Wasmad Edi Susilo akibat menggelar konser di tengah pandemi COVID-19.

Terhadap kinerja eks Kapolsek Tegal Selatan Kompol Joeharno, juga tak luput dari sorotan Idham dalam raker bersama Komisi III DPR RI, Rabu (30/9). “Masalah Tegal, itu sudah jelas. Kapolseknya itu, tidak perlu menunggu ayam berkokok, saya suruh copot itu. Saya suka itu Kapolda Jateng, dia bagus,” kata Idham.

Diberitakan sebelumnya, kasus dangdutan yang diselenggarakan oleh Wakil Ketua DPRD Tegal Wasmad Edi Susilo berbuntut panjang. Selain penyelenggara terancam pidana, jajaran penegak hukum di sana pun terkena imbasnya.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan, buntut dari peristiwa tersebut, Polri mengambil tindakan tegas dengan mencopot Kapolsek Tegal Selatan, Kompol Joeharno. Dia akan menjalani proses pemeriksaan internal karena diduga lalai sehingga terjadi kerumuman massa dalam jumlah besar di tengah pandemi Covid-19.

“Kapolsek sudah diserahterimakan dan Kapolseknya diperiksa oleh Propam,” kata Argo kepada wartawan, Sabtu (26/9).

Argo mengatakan, Polri tengah melakukan pendalaman berdasarkan LP bernomor LP/A/91 / IX/2020/Jateng /Res Tegal Kota tertanggal 25 September 2020. Acara dangdutan tersebut diduga melanggar pasal 93 UU No 6/2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan dan pasal 216 KUHP.

“Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi dan terlapor Wasmad Edi Susilo (Wakil Ketua DPRD Tegal),” pungkas Argo.


Kapolsek Tegal Dicopot, Kapolri: Tidak Perlu Menunggu Ayam Berkokok

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Boyongan dari Aceh ke Jogja, Kompetisi Ditunda, Persiraja Rugi Rp 1,5M


JawaPos.com – Sekretaris Umum Persiraja Banda Aceh Rahmat Djailani geram bukan kepalang melihat situasi Liga 1 musim 2020.

Sudah jauh-jauh hari mempersiapkan tim, melakukan renegosiasi dengan harga tinggi agar empat pemain asingnya bertahan, plus harus boyongan dari Aceh ke Jogjakarta karena pindah home base, mendadak kompetisi kasta teratas sepak bola Indonesia itu harus ditunda sebulan ke depan.

Situasi tersebut jelas membuat stres tim berjuluk Laskar Rencong itu. Selain berpengaruh pada kondisi psikologis tim, Persiraja merasakan kerugian material yang besar.

’’Kami rugi sekitar Rp 1,5 miliar akibat penundaan ini,’’ ungkapnya.

Rahmat pusing. Tidak tahu harus berbuat apa lagi bersama timnya saat ini. Berada di Jogjakarta sejak 27 September lalu, skuadnya masih pikir-pikir untuk kembali menggelar latihan sebagai persiapan.

Toh, percuma keluar uang untuk menyewa lapangan jika kompetisi harus ditunda lagi sebulan ke depan. Itu pun belum pasti jadi bergulir atau tidak.

Pulang ke Aceh? Belum terpikirkan. Saat ini Rahmat bersama timnya masih menunggu penjelasan PSSI dan PT LIB mengenai semua hal terkait penundaan Liga 1.

’’Yang pertama dan paling penting, kami ingin PSSI atau LIB memberi garansi apakah dengan penundaan sebulan kemudian ada jaminan izin akan dikeluarkan oleh Polri,’’ bebernya.

Penjelasan selanjutnya yang ingin didengar adalah terkait subsidi. Dia menuturkan, jika awal November Liga 1 kembali dilanjutkan, seharusnya ada tambahan subsidi dari LIB. Tambahan subsidi selama satu bulan. ’’Karena kompetisi berakhir pada Maret, bukan Februari seperti sebelumnya,’’ jelasnya.

Soal subsidi, Rahmat ingin LIB maupun PSSI berkomitmen. Sebab, keuangan Persiraja benar-benar kacau balau karena kompetisi tertunda. Apalagi, pendapatan dari suporter yang selama ini paling banyak didapat tidak bisa masuk karena rencana tanpa adanya suporter di lanjutan Liga 1. ’’Ini tambah bengkak pengeluaran klub. Jadi, semua harus terperinci dan jelas,’’ harapnya.

Rahmat menginginkan LIB dan PSSI segera memberikan penjelasan kepada Persiraja. Ataupun klub-klub lain dari luar Pulau Jawa yang sudah tiba di Jogjakarta. Ada tim-tim seperti Barito Putera dan PSM Makassar.

’’Kami beri deadline dua hari ke depan untuk segera memberikan penjelasan kepada kami,’’ tegasnya.


Boyongan dari Aceh ke Jogja, Kompetisi Ditunda, Persiraja Rugi Rp 1,5M

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Kasus Terpidana Mati Kabur, Polisi Periksa Petugas Lapas yang Tertidur


JawaPos.com – Penyidik Polda Metro Jaya tengah menyelidiki keterangan petugas CCTV yang mengaku ketiduran saat terpidana mati asal Tiongkok, Cai Changpan kabur dari Lapas Tangerang. Apalagi, banyak kejanggalan dari peristiwa kaburnya bandar narkoba yang menggali lubang sel tahanan itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan pihaknya sedang bekerja untuk menyelidiki kasus tersebut. “Begitu pun (petugas) CCTV, call center yang ada di Lapas itu pada saat pemeriksaan dia sempat ketiduran. Ini masih kami dalami apakah ada kemungkinan keterkaitan adanya orang yang membantu dia melarikan diri masih kami lakukan penyelidikan,” ungkap Yusri, Rabu (30/9).

Mantan Kabid Humas Polda Jawa Barat itu menegaskan para petugas lain yang memang atau ada kemungkinan membantu pelarian terpidana mati narkoba asal tersebut juga dilakukan penyelidikan. Sebab, saat melakukan olah tempat kejadian perkara, penyidik menemukan beberapa kejanggalan-kejanggalan.

Adapun kejanggalan tersebut, kata Yusri, di anataranya ditemukan bahwa setelah 11 jam melarikan diri tersangka Cai Changpan tersebut baru diketahui petugas penjaga Lapas itu. “Kalau kami hitung ada 3 shift yang sudah kami temukan ada di situ. Sift pertama, seharusnya mereka mengecek langsung, kemudian shift kedua juga sama. Lalu shift ketiga baru ketauan bahwa yang bersangkutan melarikan diri,” pungkas Yusri.

Cai Changpan, terpidana mati kasus narkoba asal Tiongkok, pekan lalu berhasil kabur melalui terowongan yang tembus ke selokan depan rumah warga. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Diberitakan sebelumnya, Cai Changpan alias Antoni alias Cai Ji Fan, terpidana hukuman mati berhasil kabur dari Lapas Kelas 1 Tangerang. Kecerdikan warga negara Tiongkok itu membuatnya bisa menghirup udara bebas. Lalu bagaimana cara bandar narkoba itu bisa kabur dari penjara?

Seperti diberitakan TangerangEkspres.co.id (Jawa Pos Group), pada Senin (14/9) sekitar pukul 02.00 WIB, Cai Changpan berhasil kabur dari Lapas. Dengan cara, menjebol keramik lantai di kamar tahanannya. Lalu menggali dan membuat terowongan hingga menembus saluran air yang berada di luar Lapas.

Setelah berada di luar lapas, ia berjalan santai di bawah terangnya lampu di sektar tembok lapas. Tak ada satu pun penjaga penjara yang memergokinya. Pagi harinya, para sipir kalang kabut. Saat mengetahui Cai Changpan tidak ada di dalam selnya di Blok D.

Ini bukan kali pertama Cai Changpan, berhasil kabur dari penjara. Saat masih menjadi tahanan di Rutan Bareskrim 2017 silam, ia berhasil kabur dari rutan bersama 7 rekannya. Dengan menjebol tembok kamar mandi menggunakan besi. Tiga hari kemudian, Cai Changpan berhasil ditangkap di Sukabumi, Jawa Barat.

Di Lapas Kelas 1 Tangerang Cai Changpan kembali mengulang sukses. Kabur setelah membuat lubang dari kamar tahanannya menembus gorong-gorong di luar lapas. Jarak kamar tahanan hingga gorong-gorong di luar tahanan sekitar 30 meter.

“Lubang itu dibuat selama 6 bulan,” kata Kapolrestro Tangerang Kombes Pol Sugeng Hariyanto. Kapolres baru mendapat kabar kaburnya terpidana mati itu, Jumat (18/9). Kalapas Kelas 1 Jumadi tidak mau melapor ke Polres. Setelah mendapat kabar, Sugeng mendatangi lapas untuk mengumpulkan keterangan.

Di dalam tahanan, Cai Changpan sejatinya tidak sendirian. Namun, bersama satu orang lagi yang, terpidana 17 tahun juga dalam kasus narkoba. Aktivitas Cai Changpan dalam membuat lubang itu, berdasarkan hasil pemeriksaan rekan satu kamar Cai Changpan. Sayang polisi tidak bersedia menyebutkan namanya.

Sugeng memaparkan, setelah berhasil membuat lubang dari kamar tahanan yang menembus gorong-gorong, Cai Changpan mengajak kabur rekannya itu. “Namun, rekan satu kamar tahanan itu tidak mau diajak kabur,” lanjut Sugeng. Selama 6 bulan, bermodalkan obeng dan pahat, Cai Changpan mencongkel keramik lantai. Lalu membuat lubang menggunakan pahat. “Dia mulai bekerja membuat lubang malam hari setelah apel malam. Jam 10 malam. Setiap malam sampai 6 bulan membuat lubang,” papar Sugeng.

Cai Changpan memang cerdik. Keramik yang ia congkel tidak pecah. Setelah selesai membuat lubang, ia tutup kembali lubang itu menggunakan keramik. Cai Changpan juga paham betul, kapan jam pemeriksaan ruang tahanan. Sebelum ada pemeriksaan, ia sudah berhenti bekerja dan menutup lubang itu menggunakan keramik. Dari mana Cai Changpan mendapatkan obeng dan pahat? Sugeng sudah memeriksa petugas lapas.

Menurut keterangan petugas lapas, 8 bulan lalu, ada tukang yang bekerja di dalam lapas. Membuat dapur. Apakah Cai Changpan mencuri peralatan itu dari tukang? Sugeng tidak berani menyimpulkan terlalu dini. “Ini yang sedang kita dalami,” lanjutnya. Tim penyidik Polres Metro Tangerang Kota juga sedang fokus pada ada tidaknya keterlibatan orang dalam lapas.

Ada kejanggalan yang sedang ditelusuri. Salah satunya, tanah bekas galian lubang tersebut. Pertanyaannya, bagaiamana Cai Changpan membuang tanah bekas galiannya. “Ini juga yang sedang kita dalami. Jarak antara kamar tahanan dengan gorong-gorong sekitar 30 meter. Lubang sebesar tubuh pelaku. Petugas lapas juga tidak mengetahui bagaimana pelaku membuang tanah galiannya,” urai Sugeng.

Polres Metro Tangerang bersama Polda Metro Jaya sedang mencari Cai Changpan. Hingga kemarin, belum ada titik terangan, ke mana ia kabur. Sugeng menegaskan, ada sistem keamanan Lapas yang harus dibenahi.


Kasus Terpidana Mati Kabur, Polisi Periksa Petugas Lapas yang Tertidur

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Lare Suroboyo, Band yang Mengembalikan Kenangan Sobat Ambyar


”Ademe Gunung Merapi Purbo, melu krungu suaramu ngomongke opo…” Sepenggal lirik lagu Banyu Langit yang dinyanyikan grup campursari milenial Lare Suroboyo itu memutar kembali kenangan kepada maestro musik Jawa Didi Kempot. Grup tersebut mendedikasikan diri merawat kenangan Sobat Ambyar di Surabaya.

GALIH ADI PRASETYO, Jawa Pos

Tanjung Mas Ninggal Janji membuka sesi latihan grup campursari yang digawangi enam orang itu. Saban Senin, Lare Suroboyo rutin menggelar latihan. Selain menyelaraskan nada dan kekompakan, juga merawat kenangan kepada musisi kebanggaan mereka, Didi Kempot.

Lare Suroboyo merupakan grup musik yang mendedikasikan diri untuk membawakan karya Didi Kempot.

Namanya juga mirip dengan band pengiring Didi Kempot ketika manggung, Lare Jawi. Grup bentukan Didik Edy Susilo itu baru diresmikan pada 12 September 2020. ”Perasaan Sobat Ambyar Surabaya itu seperti lirik lagu Pamer Bojo. Koyo ngene rasane wong nandang kangen. Rina wengi atiku rasane peteng. Tansah kelingan kepingin nyawang,” ujar pria 65 tahun itu.

Bukan tanpa alasan Didik membentuk grup tersebut. Dia jatuh cinta pada lirik ambyar sang maestro. Juga perjumpaannya dengan Didi Kempot pada 2010 mengingatkannya pada pesan yang disampaikan almarhum.

Saat itu, Didi Kempot mampir ke kediaman Didik. Pertemuan yang gayeng tersebut bertepatan dengan konser yang hendak diadakan Didi Kempot di Lapangan Kodam V/Brawijaya. Pada momen itu, Didik menunjukkan grup campursari yang dibentuk di kampungnya. ”Saat itu, saya mendapat pesan untuk terus berkarya. Melestarikan budaya Jawa. Pesan itulah yang saya pegang hingga sekarang,” kata pria yang juga ketua RW V, Kelurahan Kedung Baruk, Rungkut, tersebut.

Pesan itu seolah menjadi amanah. Yang kemudian diwujudkan sekarang. Membentuk grup campursari milenial yang bisa mengobati kangen anak-anak muda Sobat Ambyar. ”Ibarat lagu Pantai Klayar. Samar, ati iki samar. Yen nganti kowe lali janjimu neng Pantai Klayar. Dan sekarang ini saya wujudkan,” kata pegiat Eco Print Surabaya itu.

Dia pun menyadari kepergian Didi Kempot sangatlah mendadak. Saat lagi di atas, memiliki penggemar lintas usia dan zaman. Meninggalkan ”Tatu” bagi para penggemarnya. ”Senajan kowe ngilang, ra biso tak sawang. Nanging ning ati tansah kelingan.”

Tidak mau keluar dari pakem, pembentukan Lare Suroboyo pun berkiblat pada Lare Jawi. Dia ingin mendapat roh yang sama saat memainkan nada-nada Didi Kempot.

Tidak mudah memang. Saat awal, Didik menggandeng dua musisi. Yakni, Dwi Bawatno sebagai keyboardist dan Devin Martha sebagai vokalis. ”Saya tidak bilang mau membentuk grup Lare Suroboyo. Saya minta diajari nyanyi,” ujar suami Yayuk Eko Agustin itu.

Setelah merasa ada kesolidan, dia baru melempar ide membentuk Lare Suroboyo. Dia meminta dicarikan vokalis yang menjiwai setiap lirik lagu Didi Kempot. Semirip mungkin. ”Dan ternyata tidak disangka, setelah mencari, ketemunya di Taman Bungkul. Ada musisi jalanan yang karakter suaranya mirip dan bagus. Langsung kami ajak gabung,” katanya.

Dia adalah Agus Hadi Sutrisno, salah seoang fans berat Didi Kempot sejak 1998. Tiada hari tanpa menyanyikan lagu penyanyi pujaannya itu. ”Saya kagum pada setiap karyanya. Feel-nya itu dapat banget, sangat-sangat menyentuh,” ujar pria yang tinggal di Wonorejo itu.

Nyatanya, dia juga memiliki kenangan dengan penyanyi idolanya. Sekitar 2015, dia bertemu Didi saat makan di Rawon Kalkulator. ”Langsung saja saya mainkan lagunya Mas Didi. Dia kaget dan bilang suara saya enak, mirip sama beliau. Senang banget saya,” kenang Agus.

Kemiripan suaranya dengan Didi Kempot juga diakui banyak orang. Misalnya, saat mengisi hajatan, pasti orang-orang kaget ketika mendengar suaranya. ”Kalau MC-nya sudah kenal, saya pasti disuruh nyanyi dulu baru orangnya muncul. Kemudian, bilangnya yang nyanyi bukan Agus, tapi Didi Kempot,” katanya.

Setelah tiga bulan, akhirnya grup itu berhasil mengumpulkan enam orang. Yakni, tiga vokalis Ari Margono, Devin Martha, dan Agus Hadi Sutrisno. Kemudian, di melodi ada Alba Wafi, Dwi Bawatno di keyboard, dan pemain kendang Rizky Febrianto. ”Ini pun kami masih mencari pemain biola. Karena Lare Jawi pemainnya perempuan, kami juga sama mencari yang perempuan,” katanya.

Sejumlah tawaran bermain pun sudah berdatangan. Namun, pihaknya memilih untuk menahannya dulu. Sebab, kondisinya masih pandemi. Meski demikian, pihaknya terus bertekad untuk kembali menggaungkan karya-karya Didi Kempot. ”Dia menjadi inspirasi bagi kami untuk terus berkarya hingga menjadi ambyar pada waktunya,” pungkas Didik.

Saksikan video menarik berikut ini:


Lare Suroboyo, Band yang Mengembalikan Kenangan Sobat Ambyar

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Polres Ngawi Amankan Tiga Pengedar Uang Palsu


JawaPos.com–Satuan Reskrim Polres Ngawi, Jawa Timur, menangkap tiga orang tersangka kelompok pengedar uang palsu di wilayah Kabupaten Ngawi yang meresahkan warga.

Kepala Satuan Reskrim Polres Ngawi AKP I Gusti Agung Ananta Pratama mengatakan, mereka adalah Sumarji, Sarkam, dan Sumardi. Nama yang terakhir merupakan pensiunan PNS sekaligus mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun.

”Selain ketiga tersangka, Kami juga menyita barang bukti berupa motor, mobil, dan uang palsu senilai Rp 546,1 juta,” ujar Pratama seperti dilansir dari Antara di Ngawi, Rabu (30/9).

Menurut dia, ketiga orang itu ditangkap setelah pihaknya menerima laporan dari seorang korban. Polisi kini juga sedang mengejar AT yang diduga menjadi otak dari komplotan peredaran uang palsu itu.

Berdasar pengakuan tersangka, AT yang kini masih buron, diduga menyerahkan upal senilai Rp 1 miliar kepada Sumarji. Dari jumlah itu, uang palsu sebanyak Rp 100 juta diserahkan kepada Sumardi dan uang palsu Rp 400 juta untuk Suwandi, tersangka lain yang berhasil dibekuk petugas Satreskrim Polrestabes Surabaya.

”Setelah diedarkan, masing-masing wajib menyetorkan hasilnya 30 persen ke tersangka AT,” terang Pratama.

Polisi juga menjelaskan peran Sarkam. Pria itu diduga membantu Sumardi mengedarkan uang palsu di Kabupaten Ngawi. Modusnya transfer uang palsu itu ke salah satu agen BRI Link di Desa Babadan, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi. ”Tersangka Sarkam terbukti melakukan empat kali transfer dengan nilai Rp 44,5 juta,” kata Pratama.

Lebih lanjut Pratama mengatakan, uang palsu yang diedarkan komplotan AT saat diamati 80 persen mirip asli. Secara kasatmata, uang palsu itu juga memunculkan gambar pahlawan ketika diterawang. Uang palsu itu juga terasa kasar saat diraba. Namun, saat diperiksa menggunakan sinar UV tidak muncul garis putus-putusnya.

Polisi meminta masyarakat berhati-hati. Sebab, sudah ada sebagian yang terlanjur beredar ke pasaran. Jika ada yang menemukan uang palsu segera lapor ke polisi.

”Kami terus berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya maupun Polda Jawa Timur untuk mengungkap kasus tersebut,” tutur Pratama.

Sementara itu, Sumardi mengaku terpaksa ikut mengedarkan uang palsu karena kepepet memiliki pinjaman sebesar Rp 1 miliar. Pria yang pada 2013 juga mencalonkan diri sebagai bupati Madiun itu menyebut, dari uang palsu Rp 100 juta yang diedarkannya, Dia dijanjikan keuntungan 70 persen atau Rp 70 juta. ”Kalau berhasil mengedarkan uang palsu, yang disetorkan ke sana (tersangka utama) hanya 30 persen, makanya saya tertarik,” kata Sumardi.

Sumardi mengaku memiliki pinjaman mencapai Rp 1 miliar setelah gagal terpilih sebagai kepala daerah tujuh tahun lalu. Dia kini hanya mengandalkan penghasilan dari pensiunan PNS. Dia menyesal telah melakukan tindakan kriminal itu.

Saksikan video menarik berikut ini:


Polres Ngawi Amankan Tiga Pengedar Uang Palsu

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Pejabat Kabupaten Bogor Terpilih sebagai Sekda Kota Bogor


JawaPos.com–Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor Syarifah Sofiah Dwikorawati terpilih sebagai Sekretaris Daerah Kota Bogor, dari tiga nama calon Sekretaris Daerah Kota Bogor. Syarifah Sofiah Dwikorawati akan menggantikan Ade Sarip Hidayat yang pensiun pada akhir September.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengumumkan nama Syarifah Sofiah Dwikorawati sebagai Sekretaris Daerah Kota Bogor yang baru, di Balai Kota Bogor, Rabu (30/9). Wali kota didampingi Panitia Seleksi Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah yang diketuai Aba Subagja.

Syarifah Sofiah saat mencalonkan diri sebagai calon Sekretaris Daerah Kota Bogor menduduki jabatan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor. Sedangkan, dua calon lain yang tidak terpilih adalah Firdaus yakni Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bogor serta Hanafi Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor.

Menurut Bima Arya, keputusan untuk memilih Syarifah sebagai Sekda Kota Bogor telah melalui proses yang panjang mulai dari seleksi oleh Panitia Seleksi Sekda Kota Bogor. ”Secara pribadi saya melakukan pendalaman rekam jejak dengan mempertimbangkan banyak hal, serta diskusi dengan banyak pihak untuk menyerap masukan,” ujar Bima Arya seperti dilansir dari Antara.

Bima menaruh harapan kepada Syarifah yang sebelumnya berkarir di Kabupaten Bogor dapat memberikan suasana baru bagi birokrasi di Pemerintah Kota Bogor. Pengalaman dan karir Syarifah sebagai birokrat senior di Kabupaten Bogor juga dinilai Bima akan dapat menyelesaikan banyak persoalan di antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor yang belum terselesaikan.

”Ini menjadi babak baru bagi Kota Bogor juga bagi Kabupaten Bogor, karena Syarifah adalah birokrat senior di Kabupaten Bogor. Insya Allah koordinasi antara Kota dan Kabupaten Bogor akan menjadi lebih baik,” tutur Bima Arya.

Bima menambahkan, sudah memberitahukan langsung ke Bupati Bogor, Ade Yasin, soal keputusan memilih Syarifah sebagai Sekda Kota Bogor.

Saksikan video menarik berikut ini:


Pejabat Kabupaten Bogor Terpilih sebagai Sekda Kota Bogor

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Komnas HAM Temukan Dugaan Intimidasi dan Lahan Mandalika Belum Dibayar


JawaPos.com–Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan fakta sementara adanya dugaan intimidasi yang dilakukan oknum aparat terhadap para pemilik lahan. Komnas HAM juga menemukan ada lahan yang belum dibayar PT Indonesia Development Corporation (ITDC), namun sudah dilakukan penggusuran.

”Bentuk intimidasi itu, warga melapor, tidak lama kemudian didatangi aparat setiap saat, dan meminta pemilik melepaskan lahan. Begitu halnya aparat menerjunkan personel saat penggusuran sehingga terkesan berlebihan,” kata Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara seperti dilansir dari Antara di Mataram, Rabu (30/9).

Komnas HAM telah melakukan investigasi terhadap sengketa lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tim investigasi itu turun karena ada aduan dari masyarakat yang mengklaim atau merasa memiliki hak atas sejumlah lahan tempat dibangunnya lokasi sirkuit MotoGP Mandalika itu pada Agustus.

”Pengadu pertama sembilan orang untuk 10 bidang lahan. Kemudian bertambah 14 pengadu dengan jumlah 15 bidang. Sehingga, setelah kita kalkulasikan total luas lahan yang masih bersengketa seluas 18 hektare,” ujar Beka Ulung Hapsara.

Menurut dia, sesuai kewenangan yang diatur dalam UU dan mekanisme Komnas HAM meminta keterangan ITDC terkait pokok persoalan. Langkah lain, bersurat dan langsung direspons bahwa ITDC punya bukti yang sah sehingga melanjutkan pembangunan.

”Hal ini membuat Komnas HAM turun ke lapangan bertemu pemilik untuk menyandingkan versi yang diklaim ITDC. Pengakuan ITDC mempunyai bukti kuat saat peralihan ke HPL tahun 80-an. Bukti peralihan itu yang diminta Komnas HAM dan akan disandingkan dengan data temuan Komnas HAM, karena Komnas HAM menemukan ada bukti yang kuat dan ada yang perlu diverifikasi, sehingga bisa dipastikan, warga itu hanya klaim semata,” terang Beka Ulung Hapsara.

Beka mengaku, setelah turun ke lapangan tim Komnas HAM bertemu Gubernur, Kapolda, dan Kajati. Menurut dia, warga tidak menolak pembangunan sirkuit MotoGP itu, hanya ingin haknya dipenuhi dan bebas dari intimidasi.

”Hasil pertemuan itu, Gubernur, Kapolda, dan Kajati punya komitmen dan bersepakat mendudukkan dokumen yang ada dan akan disandingkan bersama seperti apa riwayat lahan, kemudian proses peralihan hak sehingga terbit HPL sampai bukti lain misal pipil Garuda dan SPPT. Terhadap persoalan lahan yang sudah selesai, Komnas HAM tidak ikut campur,” tegas Beka.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimansyah bersama unsur Forkopimda dan PT ITDC menyambut baik Komnas HAM dalam menuntaskan masalah lahan di sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah. Gubernur berharap, kehadiran Komnas HAM akan membantu menuntaskan masalah agar persoalan sengketa lahan tersebut tidak menimbulkan kegaduhan.

”Hal ini sesuai pesan dari presiden agar masalah selesai tapi tidak ada kegaduhan. Komnas HAM akan menjadi kanal, sehingga aspirasi dan pengaduan masyarakat dapat segera diselesaikan bersama-sama,” ujar Zulkieflimansyah.

Saksikan video menarik berikut ini:


Komnas HAM Temukan Dugaan Intimidasi dan Lahan Mandalika Belum Dibayar

Diberdayakan oleh Blogger.