Mereka yang Berusaha Menjaga Semangat Anak-Anak Surabaya untuk Menulis

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Mereka yang Berusaha Menjaga Semangat Anak-Anak Surabaya untuk Menulis


Surabaya memiliki anak-anak yang gemar menulis. Imajinasi mereka menyala-nyala. Dispusip dan sejumlah pegiat literasi mewadahinya dalam bentuk antologi cerpen. Demi menjaga semangat mereka.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

”Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.’’

Barangkali petuah Pramoedya Ananta Toer itulah yang menjadi sumber nyala obor di dada para penulis buku Surabaya 2050; Antologi Anak Dalam Imajinasi.

Anak-anak itu telah berusaha menjaga semangat mereka untuk menulis hingga menghasilkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) yang terbit tahun ini.

Chelsea Fiorentina Clara adalah satu di antara 30 penulis yang karyanya termuat dalam antologi itu. Chelsea dan para penulis lainnya tergabung dalam program pelatihan menulis dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya yang bekerja sama dengan Kampung Literasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ada dua cerpen yang dia setorkan untuk antologi itu, namun hanya satu yang termuat. Cerpen tersebut berjudul Sekarang Sudah Tidak Ada Sampah.

Cerpen itu menceritakan dua anak kembar dari ibu kota yang berkunjung ke Surabaya, lantas menikmati indahnya suasana Kota Pahlawan yang bersih. ”Saya menulis ini karena sering melihat sampah berceceran di kota. Saya ingin menyadarkan orang-orang,” ucap Chelsea.

Sudah setahun belakangan siswi SDN Siwalankerto II Surabaya itu aktif menulis cerpen. Puluhan judul sudah dia telurkan.

Bagi Chelsea, ide adalah kawan karib saat imajinasinya berkelindan memenuhi pikiran. Sedangkan niat dan inisiatif adalah harta yang harus dia jaga agar tak lenyap dimakan waktu luang. Maka, dia sangat gembira bisa belajar tanda baca, cara menulis yang baik, dan segala hal tentang dunia literasi bersama teman-temannya. ’’Saya sekarang sedang menulis cerpen dan mau ikut pelatihan menulis lagi,” kata Chelsea.

Dia senang bisa menghadirkan sebuah karya yang termuat dalam antologi. Sayang, dia justru belum mendapatkan buku fisik karyanya. ”Ini masih nunggu dicetak dan dibagikan sama panitia, hehe,” ujarnya polos.

Chelsea adalah bagian dari program Gerakan Menulis dan Mendongeng Seribu (Gendis Sewu) yang diadakan Dispusip Kota Surabaya. Meski program itu banyak mendatangkan manfaat, nyatanya tak semua orang mendukung. ”Banyak anak yang suka menulis, tapi tidak didukung oleh orang tuanya,” ucap Kepala Dispusip Kota Surabaya Musdiq Ali Suhudi.

Para orang tua itu, kata Musdiq, hanya menganggap anak cukup fokus pada pelajaran di sekolah. Tidak perlu melakukan hal yang lain. Padahal, menurut Musdiq, belajar menulis dan aktif membaca justru membantu anak agar lebih mudah mengerjakan tugas dan menyerap pelajaran di sekolah.

Musdiq juga prihatin dengan banyaknya anak yang ingin belajar menulis, tetapi tak bisa mengikuti rangkaian program Gendis Sewu karena keterbatasan. ”Misal, mereka harus jaga adiknya di rumah atau membantu menjaga warung milik orang tuanya. Sayang sekali, minat dan bakatnya tidak terasah,” ungkapnya.

Kartika Nuswantara, penggagas Kampung Literasi ITS, mengungkapkan bahwa meski Surabaya adalah kota metropolis, masih banyak anak yang kurang mendapatkan akses untuk belajar dan mengembangkan bakat.

Banyak anak yang hobi membaca, tetapi orang tuanya tidak mampu membelikan buku. Padahal, kurangnya akses membaca buku akan menjadi hambatan bagi seseorang yang ingin menjadi penulis.

”Membaca dan menulis itu dua aktivitas yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Untuk itu, dia aktif mengadakan program-program literasi untuk memberikan akses bacaan berkualitas bagi anak. Sekaligus mengajari anak-anak cara menjadi penulis.

Pada program yang dia gelar bersama Dispusip Kota Surabaya itu, ada beberapa mentor dan editor yang berlatar belakang penulis serta penyelaras bahasa.

Selain Kartika, ada Dadan Ramadhan, Azharine Purwa Jingga, serta Mochammad Zamachsari. Mereka mengajari anak-anak berbagai hal. Mulai cara menggali ide, menata kalimat yang baik, hingga menjaga semangat menulis.

Surabaya 2050; Antologi Anak Dalam Imajinasi adalah buku ke-4 yang dia hasilkan dari program pelatihan menulis Kampung Literasi ITS. Tiga buku sebelumnya berjudul Potret Dolly ≠ Potret Surabaya; Kumpulan Cerpen Anak-Anak Dolly, Dolly Juga Surabaya; Ada Realita Dalam Cerita Dolly, serta 30 Cerita Anak Terbaik; Hasil Lomba Antar Taman Bacaan Masyarakat di Surabaya.

Kartika menilai, Surabaya dan Indonesia pada umumnya punya banyak PR dalam bidang literasi. Betapa tidak, skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia pada 2018 saja sangat rendah, bahkan tak banyak berubah dalam 10 tahun terakhir. PISA merupakan indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global.

Untuk nilai kompetensi membaca misalnya, Indonesia berada di peringkat ke-72 dari 77 negara. Untuk nilai matematika, peringkat Indonesia adalah ke-72 dari 78 negara. Nilai sains berada di peringkat ke-70 dari 78 negara. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia kurang belajar dan membaca. Tingkat literasi dan minat membaca yang rendah berkaitan erat dengan keengganan masyarakat untuk menulis.

Untuk membenahi kondisi tersebut, anak-anaklah yang harus dididik dan dibakar semangatnya. Sebab, tak cukup jika hanya mengedukasi orang dewasa.

”Generasi mudanya yang harus kita bisakan dan biasakan terlebih dahulu. Nanti ketika mereka dewasa, mereka bisa jadi apa saja kalau literasi dan kemampuan menulisnya sudah bagus,” ungkapnya.

Seperti kata Imam Al Ghazali, ”Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Mungkin petuah itu sangat tepat diajarkan kepada siapa pun. Terutama anak-anak kecil yang ingin menjadi orang besar di masa depan.

Saksikan video menarik berikut ini:


Mereka yang Berusaha Menjaga Semangat Anak-Anak Surabaya untuk Menulis