Dengan Beasiswa Generasi Emas, Mimpi Rifqy Menjadi Dokter Terbuka

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Dengan Beasiswa Generasi Emas, Mimpi Rifqy Menjadi Dokter Terbuka


Tekad Rifqy Alamsyah Putra meraih impian menjadi dokter telah membaja. Di tengah kondisi keuangan yang serba terbatas, asa pun datang menyapa. Dia mendapatkan bantuan beasiswa generasi emas (genmas) dari pemkot.

ARISKI PRASETYO, Surabaya

JANGAN takut bermimpi setinggi langit. Kejar cita-citamu sekuat tenaga. Serta sampaikan keinginan itu pada semesta. Yakinlah, Sang Pencipta maha mendengar. Tuhan selalu mewujudkan permintaan hamba-Nya.

Prinsip hidup itu dipegang teguh oleh Rifqy Alamsyah Putra. Dia tidak gampang kalah oleh keadaan. Meski diterpa hambatan yang datang bertubi-tubi. Impiannya tak boleh lenyap.

Ketika ditemui di rumahnya, hanya satu keinginan besar Rifqy. Yaitu, menempuh pendidikan di fakultas kedokteran. Kelak saat lulus, bisa menjadi seorang dokter.

Bagi keluarga yang dikaruniai keuangan yang cukup, cita-cita itu tentu mudah didapatkan.

Namun, mimpi tersebut tidak mudah diwujudkan bagi Rifqy. Kondisi ekonomi menjadi penghalang utama. Hidup keluarganya pas-pasan. Sang ayah, Ahmad Arif, adalah tulang punggung keluarga. Dia merantau dari Jombang ke Surabaya. Harapan tinggi disematkan. Dia harus mendapatkan pekerjaan yang layak.

Semula, dia bekerja sebagai sales kendaraan. Namun, kemudian Ahmad beralih bekerja sebagai tenaga kontrak kebersihan pada dinas pendidikan (dispendik). Sehari-hari dia bertugas di SDN Sambikerep 5 Surabaya.

Setiap bulan penghasilan Ahmad dicukup-cukupkan. Untuk kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, hingga keperluan lain. Dia masih bisa bertahan. Bahkan menyimpan sisa penghasilan itu. ”Alhamdulillah cukup. Besarnya setara UMK,” terangnya saat ditemui di rumahnya Sabtu lalu.

Meski pendapatannya tak seberapa, Ahmad tetap berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Sekolah adalah hal yang utama. Sejak SD, Rifqy dibebaskan memilih sekolah.

Ketika SD, anak pertama Ahmad itu bersekolah di SDN 5 Sambikerep. Lokasinya berdekatan dengan rumah. Setiap hari Rifqy berangkat dan pulang dengan diantar orang tuanya.

Beranjak SMP, pria 45 tahun itu sudah memiliki rencana. Memasukkan Rifqy ke SMPN 20 Sambikerep. Namun, Rifqy memilih bersekolah di SMPN 26 Surabaya. Sebab, nilainya mencukupi untuk masuk ke sekolah di wilayah Tandes itu.

Di SMPN 26, siswa yang gemar membaca itu dikenal sebagai murid yang berprestasi. Prestasi itu membuat orang tuanya bangga. Sekaligus waswas. Pasalnya, sang anak sudah menetapkan pilihan. Hendak melanjutkan ke SMA di jantung kota. Sekolah yang dipilih adalah SMAN 5 Surabaya.

Faktor jarak juga menjadi pertimbangan. SMAN 5 terlampau jauh dari tempat tinggal Rifqy. Berkisar 20 km. Ibu Rifqy, Sri Rodiyah, lantas membujuknya. Meminta anaknya itu bersekolah di dekat rumahnya. Perempuan 45 tahun tersebut tidak tega melihat anaknya berangkat selepas subuh.

Namun, lagi-lagi, tekad Rifqy sudah bulat. Dia tetap ingin bersekolah di SMAN 5 Surabaya. Hanya satu alasan Rifqy. ”Nilai saya mencukupi. Jadi, ya masuk ke SMAN 5,” ucapnya.

Sebagai konsekuensi, sejak hari pertama sekolah, Ahmad terpaksa mencari jasa antar jemput. Layanan antar jemput itu hanya bertahan satu tahun. Ahmad dan Sri menelaah. Pengeluaran bulanan mereka jauh bertambah besar. Per bulan, keduanya harus menyediakan uang Rp 200 ribu untuk layanan tersebut. ”Pas itu sudah memiliki SIM, Rifqy memakai sepeda motor saya untuk sekolah,” ucap Sri.

Pilihan Rifqy bersekolah di SMAN 5 ternyata tepat. Dia menjadi salah seorang siswa berprestasi. Selepas SMA, Ahmad sempat memberikan masukan agar Rifqy mendaftar kuliah pada lembaga yang memberikan ikatan dinas. Misalnya, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Namun, layar sudah terkembang. Pantang bagi Rifqy pulang. Beragam cara dilakukan Rifqy untuk meyakinkan orang tuanya. Dari hasil diskusi, ada satu syarat yang diminta Ahmad agar anaknya tetap bisa menempuh pendidikan di jurusan kedokteran. Yaitu setelah diterima, Rifqy harus mendapatkan beasiswa. Cara itu dilakukan untuk meringankan beban keluarga.

Setelah diterima di Fakultas Kedokteran Unair, kakak Fandi Ahmad Prayogo itu menepati janjinya. Mencari beasiswa. Beragam bantuan dia telusuri. Termasuk beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Secercah harapan itu tumbuh selang satu bulan Rifqy diterima di Jurusan Kedokteran Unair. Wujudnya beasiswa generasi emas (genmas) dari Pemkot Surabaya.

Ahmad lantas mencari informasi. Persyaratan apa saja yang harus dipenuhi. Ada tiga hal yang utama. Pertama, penerima harus warga Surabaya. Kedua, status penerima merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Terakhir, telah diterima di perguruan tinggi.

Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Selang beberapa hari, Ahmad mendapat kabar bahagia. Rifqy dinyatakan mendapatkan beasiswa. ”Alhamdulillah, anak saya akhirnya bisa berkuliah di jurusan kedokteran,” terangnya.

Baca Juga: Covid-19, Proyek Macet, Tagihan Mandek, Aset-Aset Perusahaan Dilelang

Total ada 756 mahasiswa yang menerima bantuan pemkot itu. Rifqy boleh berbangga. Dia merupakan satu-satunya mahasiswa kedokteran yang mendapatkan bantuan tersebut.

Pemkot menanggung seluruh kebutuhan Rifqy. Mulai biaya UKT, uang saku, hingga kebutuhan perkuliahan. Hanya satu permintaan pemkot. Dia diminta fokus kuliah.

Setapak demi setapak, Rifqy sudah menyusun masa depan. Selepas menuntaskan kuliah, dia ingin berbakti kepada orang tua. Menjadi PNS tenaga kesehatan. ”Nanti ketika ada rezeki, melanjutkan ke jenjang spesialis. Lantas, membuka praktik,” paparnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:


Dengan Beasiswa Generasi Emas, Mimpi Rifqy Menjadi Dokter Terbuka