Pasien Membeludak, Rumah Sakit Ubah IGD Jadi Ruang Isolasi

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Pasien Membeludak, Rumah Sakit Ubah IGD Jadi Ruang Isolasi


JawaPos.com – Melonjaknya kasus Covid-19 secara nyata menambah beban rumah sakit (RS). Gelombang pasien yang datang membuat seluruh tempat tidur (bed) terisi. Bahkan, beberapa RS sampai mendirikan tenda untuk melayani pasien.

Yang terlihat di RSUD Chasbullah Abdumadjid (CAM) Kota Bekasi misalnya. Kemarin (25/6) overload itu terlihat dari banyaknya pasien yang berada di ruang terbuka di depan unit gawat darurat (UGD) RSUD.

Dilansir dari Radar Bekasi, Direktur RSUD CAM Kusnanto Saidi menjelaskan, pihaknya telah memantau lonjakan pasien sejak Kamis malam (24/6). ”Namun, pagi hari tadi (kemarin, Red), ternyata banyak antrean pasien yang datang. Banyak warga yang meminta dirujuknya ke RSUD. Kapasitas tenda tidak menampung,” terangnya.

Untuk mengurai antrean pasien yang hendak ke UGD, kata Kusnanto, pihak RS sementara menyediakan tenda dan lorong sebagai triase UGD. RS CAM membuka lorong gedung A sebagai triase dengan kapasitas 15 tempat tidur dan satu lantai di gedung E. ”Dengan kapasitas 45 bed,” katanya.

Kemarin sore seluruh penambahan kapasitas bed itu bisa difungsikan. Total ada 600 bed. Perinciannya, 400 bed untuk isolasi pasien Covid-19 dan 200 bed untuk pasien umum.

Ketua IDI Jawa Barat dr Eka Mulyana SpOT pada kesempatan terpisah membeberkan, tingkat keterisan tempat tidur untuk pasien Covid-19 di Jawa Barat sudah lebih dari 90 persen. Bahkan di beberapa RS mencapai lebih dari 100 persen. ”Bahkan 103 persen di (salah satu rumah sakit, Red) pusat Kota Bandung,” ungkapnya. Itu jauh dari standar WHO.

RS lain yang merasakan tingginya angka pasien Covid-19 antara lain adalah jaringan Siloam Hospitals. Misalnya Siloam Hospitals Kelapa Dua, Tangerang, Banten. Data di aplikasi Siranap Kemenkes per 25 Juni 2021, 28 tempat tidur ICU sudah terisi. Sementara itu, dari 206 tempat tidur isolasi tanpa tekanan negatif, hanya tersisa tujuh tempat tidur.

Begitu juga halnya di RS Siloam Mampang, Jakarta Selatan. Seluruh ruangan yang digunakan untuk pasien Covid-19 penuh. Di RS itu disiapkan 12 tempat tidur ICU tekanan negatif dengan ventilator, 15 tempat tidur ICU tekanan negatif tanpa ventilator, dan 128 tempat tidur isolasi tekanan negatif. Kondisi serupa terjadi di Siloam Hospitals Surabaya. Seluruh ruangan yang disiapkan untuk pasien Covid-19 juga penuh.

Deputy President Director PT Siloam International Hospitals Caroline Riady mengatakan, kasus Covid-19 memang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu membuat RS yang melayani pasien Covid-19 kedatangan banyak pasien. Bahkan, banyak RS yang sudah penuh kapasitasnya. ”Kami tidak pernah lengah akan situasi saat ini,” ucapnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, DKI Jakarta menjadi sorotan terkait keterisian tempat tidur rumah sakit. Untuk itu, ada penambahan tempat tidur perawatan pasien Covid-19. ’’Dalam seminggu terakhir ada beberapa keputusan. Di antaranya, mengonversikan tiga rumah sakit pemerintah untuk menjadi 100 persen melayani Covid-19,” ungkapnya.

Selain itu, mengubah IGD menjadi kamar isolasi. Dengan demikian, pasien yang sudah masuk rumah sakit mendapatkan perawatan. Sedangkan layanan IGD dilakukan di tenda-tenda yang dibangun di luar rumah sakit. ’’Kita tambah tempat isolasi. Satu di (Rusun) Pasar Rumput dan satu di (Rusun) Nagrek,” katanya.

Dia menegaskan, masih ada kapasitas tempat tidur untuk layanan Covid-19 secara nasional yang kosong. ’’Masih ada 25 ribu tempat tidur (yang kosong),” katanya. Jumlah itu belum ditambah dari konversi IGD dan tiga rumah sakit milik pemerintah di DKI Jakarta. Budi mengatakan, di Indonesia, ada 389.000 tempat tidur. Dia meminta 30 persen dialokasikan untuk penanganan Covid-19.

Sementara itu, meski ada lonjakan pasien, Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi) menyatakan bahwa sampai saat ini kondisi masih terkendali. Sekretaris Jenderal Persi Lia G. Partakusuma mengungkapkan, pada umumnya, rumah sakit se- Indonesia menyiapkan stok hingga tiga bulan ke depan. Misalnya untuk obat-obatan dan APD. Khusus ventilator, kondisinya berbeda di berbagai rumah sakit. ”Kalau RS besar dengan ICU cukup banyak, ventilator sudah disediakan sesuai kapasitas,” jelas Lia.

Beberapa permasalahan memang sempat muncul. Terutama yang berkaitan dengan tabung oksigen yang belum bisa menyesuaikan dengan kondisi membeludaknya pasien.

Lia menyebutkan, beberapa RS di beberapa provinsi melaporkan bahwa mereka kurang cepat mendapatkan suplai oksigen. Tabung yang sudah habis terpakai harus ditukar dengan yang baru. ”Biasanya dua hari sekali RS mendapatkan pasokan oksigen cair. Sekarang ini mereka minta tiap hari,” jelasnya.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian bersama Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) dan para pelaku industri terkait berupaya menjaga ketersediaan pasokan oksigen medis untuk kebutuhan rumah sakit. ”Kami sudah membahas dengan asosiasi terkait kekurangan-kekurangan oksigen di beberapa rumah sakit di Jawa Tengah. Mereka akan menyuplai dari pabrik-pabrik di Jawa Barat dan Jawa Timur. Kami akan terus memastikan kebutuhan oksigen di rumah sakit terpenuhi dan sudah disanggupi oleh asosiasi,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Seiring meningkatnya permintaan gas oksigen medis untuk pasien Covid-19, Menperin berharap pasokan listrik untuk industri berjalan lancar dan tidak ada gangguan. Sebab, apabila listrik padam, mesin produksi di industri gas oksigen butuh waktu sekitar delapan jam untuk kembali beroperasi. ”Kami meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan hal ini,” ujar Agus.

Selain itu, menurut Agus, agar suplai logistik gas oksigen untuk medis berjalan lancar, diharapkan ada dispensasi bagi truk tangki yang membawa oksigen pada jalan-jalan tertentu menuju rumah sakit yang membutuhkan. ’’Ada jalur yang tidak dapat dilalui oleh truk tangki oksigen karena beban muatan yang cukup besar,” tambahnya.

Kemenperin juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait pemutakhiran data kebutuhan oksigen di daerah, terutama rumah sakit yang menampung pasien Covid-19. Hal itu diharapkan bisa memastikan agar pasokan oksigen sesuai dengan kebutuhan daerah dan rumah sakit setempat.

Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) mencatat ketersediaan stok tabung gas oksigen mencapai 2.000 unit. Pasokan itu dinilai mampu untuk mengantisipasi lonjakan permintaan akibat kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia. ”Pada bulan Juli akan datang lagi tambahan tabung gas sehingga kami pastikan ketersediaan tabung gas oksigen untuk medis tercukupi,” ujar Ketua Umum AGII Arief Harsono.

RS KIAN SESAK: Sejumlah pasien beristirahat di ruang IGD tambahan di RSUD Bekasi, Jawa Barat, kemarin (25/6). Pemerintah setempat mendirikan tenda untuk ruang IGD sebagai triase yang dapat menampung 30 pasien. (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Varian Delta Sudah Masuk Karawang

Tingkat penularan Covid-19 varian Delta yang dinilai lebih tinggi semakin terbukti. Hal itu tampak dari hasil pengujian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). LIPI jadi salah satu anggota Konsorsium Surveilans Genome SARS-CoV-2 di Indonesia.

Pertengahan Juni lalu, LIPI menerima 104 sampel Covid-19 dari Karawang, Jawa Barat. Pada 21 Juni, 61 sampel berhasil diidentifikasi. Hasilnya, sebanyak 44 sampel adalah Covid-19 varian Delta. Kemudian, ada tiga varian Alpha.

Baca juga: Kemenkes Konversi Tiga RS Khusus Layani Pasien Covid-19

Seperti diketahui, varian Delta ditengarai menjadi biang keladi meledaknya Covid-19 di Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Varian Delta sebelumnya sudah diidentifikasi di beberapa daerah. Seperti Jakarta, Kudus, dan Bangkalan. Lalu, hasil pemeriksaan LIPI memastikan varian asal India itu juga ditemukan di Karawang.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI Anik Budhi Dharmayanthi mengatakan, tim Surveilans Genome SARS-CoV-2 LIPI (Tim Venomcov) berhasil menggunakan platform dari Oxford Nanopore Technologies (ONT) untuk mengidentifikasi varian-varian Covid-19. ’’Sementara ini kami baru mengidentifikasi 61 sampel,’’ katanya. Sisanya masih dalam proses sekuensing. Dia berharap, dalam beberapa waktu ke depan, sisa sampel tersebut bisa diidentifikasi.


Pasien Membeludak, Rumah Sakit Ubah IGD Jadi Ruang Isolasi