Indonesia Tak Boleh Lagi Hanya Andalkan Bulu Tangkis dan Angkat Besi

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Indonesia Tak Boleh Lagi Hanya Andalkan Bulu Tangkis dan Angkat Besi


JawaPos.com – Indonesia memang berhasil mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Total, Indonesia mendapat 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu.

Namun, raihan itu tidak mampu membuat target kontingen tercapai. Ya, sebelum bertolak ke Jepang, kontingen Indonesia ditargetkan masuk 40 besar.

Target itu lebih tinggi daripada hasil yang dicapai pada Olimpiade 2016. Saat itu, Indonesia menempati peringkat ke-46 setelah meraih satu medali emas lewat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Lalu, dua perak dari atlet angkat besi Sri Wahyuni Agustiani (kelas 48 kg putri) dan Eko Yuli Irawan (kelas 62 kg putra).

Bahkan, secara peringkat, prestasi Indonesia bisa lebih buruk. Sebab, sampai kemarin (5/8), Indonesia masih berada di peringkat ke-46.

Posisi Indonesia berpeluang kembali turun lantaran masih ada sejumlah cabang olahraga yang dipertandingkan. Padahal, atlet Indonesia sudah tidak ada yang bertanding.

Rombongan terakhir tiba Kamis dini hari. Total, ada sembilan atlet, yaitu Anthony Sinisuka Ginting, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Lalu Muhammad Zohri, Alvin Tehupeiory, Vidya Raffika Toyyiba, Rahmat Erwin Abdullah, dan Nurul Akmal.

Menpora Zainudin Amali menuturkan, pada Olimpiade kali ini ada perubahan paradigma. Sebab, pihaknya sudah menyiapkan grand design olahraga nasional dengan menempatkan Olimpiade menjadi sasaran utama.

Jadi, Olimpiade terpisah dengan Asian Games maupun SEA Games.

”Termasuk bagaimana mengukur keberhasilan. Tidak hanya perolehan medali, akan tetapi perbaikan peringkat yang meningkat,’’ kata Zainudin saat memberikan keterangan secara virtual kemarin.

”Perubahan paradigma ini, semua ada dalam grand design olahraga nasional yang sedang menunggu payung hukum berupa perpres,” ucapnya.

Setelah ini, pihaknya segera melakukan evaluasi bersama CdM, NOC Indonesia, pengurus cabor dan pelatih, serta unsur lainnya yang memang terlibat langsung dalam keikutsertaan di Olimpiade Tokyo ini.

”Hasil evaluasi akan kami sampaikan nanti. Sekarang karantina. Ketua NOC (Raja Sapta Oktohari, Red) masih di Tokyo bersama Sekjen. Kami menunggu mereka kembali untuk duduk bareng,” paparnya.

Pihaknya segera mempersiapkan diri menuju Olimpiade Paris 2024. Zainudin memiliki keyakinan kalau banyak atlet yang memiliki prospek bagus untuk Olimpiade selanjutnya. Angkat besi, misalnya.

Ada nama Windy Cantika dan Rahmat Erwin. Di cabor lain seperti dayung dan menembak pun banyak yang masih berusia muda. ”Masih banyak harapan,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya tidak hanya mengandalkan satu–dua cabor seperti bulu tangkis dan angkat besi. Tapi, akan memperluas basis cabor. Sebab, prestasi, menurut dia, bisa didesain.

”Kita adakan perbaikan melalui perubahan yang sangat ekstrem dengan me-review total pembinaan prestasi dan target-target,” katanya.


Indonesia Tak Boleh Lagi Hanya Andalkan Bulu Tangkis dan Angkat Besi