Pemanjat Kelapa

Jika anda butuh jasa pembuatan blog silahkan hubungi www.oblo.co.id

Pemanjat Kelapa


Sebuah rumah panggung. Dengan bangunan yang beberapa bagiannya sudah lapuk dimakan rayap. Dindingnya benar-benar sudah kusam. Di rumah itu, lelaki tua bernama Bayan tinggal. Dan sudah beberapa minggu ini, Bayan tidak mau ke luar dalam kamar. Ada apa gerangan?

DI DALAM kamar, Bayan hanya duduk terpekur menatap ruangan. Berjam-jam ia lakukan itu, dan jika sudah bosan akan dibaringkannya tubuh. Namun, pikirannya masih tidak terfokus. Ini gara-gara pertemuannya dengan Saidah, janda beranak empat berusia empat puluh lima tahun itu.

Saidah kini kembali menetap di Kampung Belimbing setelah suaminya meninggal di Jakarta kena penyakit malaria. Ia bertemu dengan Saidah pada sore yang berkabut. Mulanya ia tak menyangka perempuan yang menghadang dirinya di persimpangan jalan itu adalah Saidah, sebab penyakit katarak sedikit mengaburkan matanya.

”Apa kabar, Uda,” tanya perempuan itu saat kali pertama berjumpa.

Agak beberapa lama Bayan terpaku, lalu menjawab dengan bibir ragu, ”Kau, Saidah?” tanyanya.

”Iya, Uda. Apa Uda lupa?”

”Ti-tiidak, Saidah. Cuma pandanganku saja.”

”Uda dari mana?”

”Biasa, Saidah. Kau lihat beruk ini kan, kau tahu aku pasti dari mana.”

Bayan berlalu dan tak menyahut lagi. Ditariknya tali kendali beruk itu dengan satu entakan hingga binatang pemanjat kelapa itu mengikuti langkahnya. Dia pergi meninggalkan perempuan itu begitu saja. Tetapi, pikirannya tentu tidaklah begitu. Berbagai pertanyaan berbaku tindih di kepalanya tentang pertemuannya dengan Saidah sore itu.

***

Berada di kamar rumah panggung itu sungguh tidak membuat Bayan bosan. Ia menelentangkan tubuh. Menjuntaikan dua kakinya. Dengan jelas didengarnya beruk peliharaannya berteriak-teriak tanda kelaparan, atau memang binatang itu sudah bosan terikat tali di kandang. Sejak ia sering mengurung diri di kamar, binatang itu tak terawat. Kurus dan kelaparan. Ia mendengar setiap pekikan dan rintihan binatang kesayangannya itu, tapi saat ini ia tidak peduli sama sekali.

Tidak pernah Bayan bertingkah serupa ini. Bahkan selama ini pun, berbagai cibiran orang yang ditujukan padanya tak membuat ia merajuk dan sakit hati, meski di dalam hati ia teramat sedih.

”Lihatlah si Bayan, setiap hari berkawan dengan beruk.”

Dan yang lain akan menimpali, ”Mungkin beruk itu istrinya, bukankah beruk Bayan itu betina?”

”Hus, beruknya jantan.”

”Itu jantan?”

”Ya, ya…”

”Hahahaha…”

Dan di hari lain, orang yang melihatnya akan berkata lagi, ”Kenapa Bayan tak kawin-kawin?”

”Karena dia tak suka kawin. Kalau suka pasti dia kawin,” kata yang lain berseloroh.

”Bukan. Karena Bayan tak suka manusia.”

”Jadi, ia suka apa?”

”Beruk!”

”Jadi, ia sudah kawin sama beruk?”

”Iyalah.”

”Hus, sok tahu.”

”Iya, Bayan memang suka beruk. Setiap hari dimandikannya. Diperhatikan seperti istrinya saja.”

”Celaka!”

”Ya, celaka dua belas.”

”Hahaha…”

Bayan pun hanya akan diam sambil tangannya terus menghela beruk kesayangannya itu. Tak sekali pun Bayan merajuk, apalagi marah-marah.

Sungguh, Bayan sangat menyayangi beruk itu. Tetapi bukan mencintainya seperti dugaan orang-orang di kampung itu padanya. Bayan pun tidak pernah tidur dan mengawini beruknya itu. Pernyataan orang-orang itu hanya omong kosong. Rasa sayangnya tumbuh karena binatang itu begitu mengerti dirinya. Meski tak bisa diajak bicara, binatang itu seperti mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Mengerti akan kesepian hatinya, juga mengerti perasaan pedih setiap orang menghina dirinya. Adakah orang di Kampung Belimbing yang dapat mengerti derita hatinya? Tidak! Hanya beruk itu yang tahu.

Namun, kepulangan Saidah telah membuat binatang itu seperti terpinggirkan. Terlupakan dan terabaikan. Jadi, apakah arti Saidah baginya sehingga binatang itu sering meraung menahan lapar dan kini kesepian?

Beberapa puluh tahun yang lalu, kala itu mereka bertemu di parak pisang Saidah.

”Ayahku tak suka Uda bekerja sebagai pemetik kelapa,” kata Saidah di awal pembicaraannya.

”Tapi, Upik, Uda suka. Uda menikmatinya. Kau bayangkan, Pik, betapa pintarnya seekor beruk. Dia dapat memilih mana kelapa yang bersantan atau tidak. Dan mana yang mumbang.”

”Tapi, Uda…”

”Tunggu, Pik, ini pekerjaan turunan dari ayahku. Aku hanya meneruskan pesan almarhum. Kau bayangkan, Pik, jika pekerjaan ini tak aku lanjutkan, siapa yang akan menurunkan kelapa tua di Kampung Belimbing ini? Tidak ada kan.”

Dan Saidah tak lagi menyahut. Dia kehabisan kata-kata.

Pada hari yang lain, mereka kembali bertemu. Saidah memberikan ultimatum atas hubungan mereka yang tak direstui.

”Aku akan dikawinkan dengan orang lain, Uda.” Itu kalimat pembuka pertemuan mereka di bawah pohon ambacang di kebun milik ayah Saidah.

”Kenapa?” Itu pertanyaan bodoh yang dilontarkan Bayan pada Saidah yang akan membuatnya menyesal bertahun-tahun lamanya.

”Karena ayahku tak suka pada pekerjaan Uda sebagai pemetik kelapa.”

”Begitukah?”

”Jawaban Uda asal-asal saja. Seperti orang tidak mau tahu,” kata Saidah menggerutu. Saidah benar-benar kesal. Perasaannya seperti tak dihiraukan oleh Bayan. Keinginan merajut masa depan bersama Bayan seperti tak dipedulikan.

Esok harinya, dengan perasaan kesal, di malam yang berhujan, akhirnya Saidah mengabulkan permintaan ayahnya untuk bersedia menikah dengan Udin Saman. Seorang pedagang kain di Tanah Abang yang merupakan warga kampung seberang.

Dua bulan kemudian Saidah menikah. Meski menerima undangan pernikahan, Bayan tidak datang pada pesta pernikahan Saidah. Bagaimana Bayan bisa datang jika pernikahan Saidah yang tiba-tiba saja itu seperti mata pedang yang menghunjam hatinya. Sungguh Bayan merasa terluka. Cintanya seperti dipatahkan. Hatinya telah diremukkan.

Bayan baru kembali menjalani hari-harinya dengan normal beberapa bulan setelah Saidah meninggalkan Kampung Belimbing karena ikut suaminya ke Jakarta. Kepergian Saidah membuat Bayan semakin mencintai pekerjaan sebagai pemetik kelapa bertahun-tahun lamanya.

Dan kini Saidah kembali pulang. Bayan sungguh diamuk bimbang. Bayan sudah tahu bahwa Saidah telah janda. Meski janda, bagi Bayan Saidah tetaplah menarik. Di kamar itu, perlahan Bayan menarik napas dalam-dalam. Sesekali masih didengarnya beruknya meraung seperti merintih kelaparan.

Di dalam kamar, Bayan terus saja merebahkan tubuh dengan telentang. Berhari-hari, bukan, berbulan-bulan Bayan tak ingin ke luar kamar. Ia mengabaikan kesehatan tubuhnya. Bayan pun sudah tidak memiliki selera makan. Ia tidak ingin berjumpa dengan Saidah di tengah jalan sambil berjalan dengan seekor beruk, seperti pertemuan beberapa hari yang lalu. Bagi Bayan, perjumpaan itu adalah sebuah kepedihan. Kenangan masa lalu kembali menghunjam hati Bayan. Bahkan sangat melukainya. Membuat Bayan makin terpuruk di dalam kamar rumah panggung itu.

***

Berbulan-bulan kemudian, para warga pemilik kelapa di Kampung Belimbing sudah terbiasa sendiri dengan buah kelapa yang jatuh sendiri ke tanah. Jumlahnya kadang tidak hanya satu, tetapi bertandan-tandan.

Dan di kampung itu pula, bila kalian sering membaca koran terbitan di kota itu, acap kali ada berita tentang orang yang tewas tertimpa buah kelapa tua. Mereka yang mati, kalau kepalanya tak pecah, ya retak terkena kelapa jatuh.

Namun sayangnya, di koran terbitan kota itu mereka luput menuliskan tentang kematian seorang lelaki di ka marnya dengan tubuh membusuk. Lelaki yang dulu bekerja membawa beruk untuk memanjat pohon kelapa. (*)

ILUSTRASI – BUDIONO/JAWA POS

FARIZAL SIKUMBANG

Lahir di Padang. Bukunya yang sudah terbit, Kupu-Kupu Orang Mati dan Perempuan dalam Prahara. Berdomisili di Banda Aceh.


Pemanjat Kelapa